Makalah Landasan Pendidikan

LANDASAN PENDIDIKAAN

 

 

BAB 1

SIFAT HAKEKAT MANUSIA

  1. A.    Pendahuluan

Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bertujuan agar peserta didik menumbuhkembangkan potensi manusia agar menjadi manusia dewasa, beradab dan normal. Potensi ini merupakan benih (bawaan) sejak dilahirkan. Seperti halnya benih padi yang ditanam  dengan baik sudah pasti akan tumbuh menjadi tanaman padi, bukanya tumbuh menjadi tanaman jagung. Di dalam Al Qur’an diterangkan bahwa potensi itu terdiri dari fujur (nafsu) dan taqwa (Q.S. 61:8).

  1. B.     Dimensi Hakekat Manusia

Disebut sifat hakekat manusia karena secara hakiki sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia. Adapun sifat hakekat tersebut adalah:

  1. Makhluk Monodualis, artinya manusia itu satu akan tetapi terdiri dari 2 unsur yaitu jasmani dan rohani.
  2. Makhluk individu dan sosial.
  3. Makhluk religius atau makhluk ber_Tuhan yang harus taat, tunduk dan patuh kepada Allah.
  4. Makhluk paedagogik atau makhluk yang terdidik dan bias dididik.
  5. Makhluk Homo Faber atau makhluk yang mampu mengembangkan dirinya.
  6. Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan.
  7. Memiliki sifat rasional dan bertanggungjawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
  8. Memiliki proses berkembang selama hidup.
  9. Selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan keinginannya.
  10. Memiliki potensi yang tak terduga dengan potensi yang tak terbatas.
  11. Makhluk Allah yang mengandung kemungkinan jahat dan baik, dan
  12. Makhluk yang dipengaruhi lingkungan sosial.
  1. C.    Hakekat  Manusia dalam Pandangan Islam

Manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Selain itu manusia sudah dilengkapi dengan berbagai potensi yang dapat dikembangkan .

Dalam Al Qur’an, manusia disebut dengan berbagai nama, antara lain:

  1. Al Basyr artinya manusia terdiri dari materi sehingga menampilkan sosok dalam bentuk fisik (berupa tubuh).
  2. Al Insan artinya potensi yang dianugrahkan oleh Allah SWT kepada manusia.
  3. An Naas artinya fungsi manusia sebagai makhluk sosial.
  4. Abdullah artinya makhluk yang memiliki potensi berperasaan berkehendak, dan
  5. Khalifah Allah artinya manusia dilengkapi berbagai potensi antara lain bekal pengetahun untuk melaksanakan tugas kekhalifahan.
  1. D.    Implikasi dalam Pendidikan

Dari uraian tersebut maka dapat diambil beberapa implikasi antara lain sebagai berikut:

  1. Anak memerlukan perlindungan an perawatan.
  2. Kemampuan pendidikan terbatas.
  3. Diperlukan transmisi budaya.
  4. Diperlukan internalisasi budaya.
  5. Anak dapat menerima bantuan yang tertuju pada saat belajar, dan
  6. Setiap individu adalah unik (mempunyai kelebihan).

HAKEKAT PENDIDIK

  1. A.    Pengertian

Pendidik dalam arti sederhana adalah semua orang yang dapat membantu perkembangan kepribadian seseorang dan mengarahkannya pada tujuan pendidikan. Sedang menurut UU RI No. 2 Th. 1989 Sisdiknas, pendidik adalah anggota masyarakat yang bertugas membimbing , mengajar dan melatih peserta didik.

Orang tua menjadi pendidik terhadap anak-anaknya. Fungsinya adalah melindungi, mengasuh, mengasah dan mengasihi.

Pemimpin masyarakat berfungsi sebagai pendidik, member pengaruh yang baik, sehingga mereka akan memperoleh pengikut yang menerima pengaruh tersebut.

Guru menjadi pendidik dengan fungsi utama mengajar dan mencerdaskan peserta didik. Serta ikut bertanggungjawab terhadap nilai-nilai ethis dari ilmu-ilmu yang diajarkan, nilai-nilai budi pekerti dan kepribadian yang manusiawi.

  1. B.     Kepribadian Guru

Menekuni bidang profesi guru berarti seseorang harus menyadari bahwa tugas utamanya disamping mengajar juga mendidik.

Agar guru memiliki kepribadian yang disegani oleh orang lain (berwibawa), maka paling tidak harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Taqwa kepada Allah.
  2. Memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang baik.
  3. Memiliki kemampuan dan ketrampilan teknik.
  4. Mampu memelihara dan mengembangkan kode etik guru, dan
  5. Melaksanakan tugas secara ikhlas.
  1. C.    Tugas Pendidik (Guru)

Proses pendidikan berlangsung dalam pergaulan yang bersifat mendidik. Menurut Muri Yusuf (1996) guru sebagai pendidik memiliki tugas antara lain sebagai berikut:

  1. Mendorong dinamika dalam pergaulan kearah yang lebih positif dan terpadu.
  2. Mengorganisir pergaulan dengan baik yang memungkinkan komunikasi timbal balik antara pendidik (guru) dengan anak didik.
  3. Mengenal anak didik secara lebih baik.
  4. Mengadakan evaluasi secara berkesinambungan terhadap perkembangan anak didik.
  5. Membatasi perkembangan buruk pada diri anak dan menyalurkan kearah yang positif.
  6. Membantu anak didik dalam situasi pergaulan yang bersifat mendidik, dan
  7. Mengajak anak bertanggungjawab dan menyuruhnya berperan aktif dalam situasi pergaulan yang bersifat mendidik.
  1. D.    Arti dan Fungsi Guru Muhammadiyah

1. Pengertian

Guru Muhammadiyah adalah seorang guru yang   mengajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah, maupun yang diangkat langsung oleh Persyarikatan Muhammadiyah.

Seorang guru Muhammadiyah pada hakekatnya tidak dapat melepaskan dirinya dari status:

  1. Sebagai makhluk Allah dan sebagai manusia muslim.
  2. Sebagai warga Negara RI yang memiliki tanggung jawab penuh untuk menunaikan prinsip-prinsip GBHN dalam nmenjalankan tugas profesinya.
  3. Sebagai pegawai persyarikatan yang mengangkatnya, ia bertanggung jawab atas prinsip sumpah janji jabatannya, dan
  4. Sebagai guru suatu mata pelajaran yang dipercayakan kepadanya, memiliki fungsi sebagai penanggung jawab kurikulum.

2. Fungsi Guru Muhammadiyah

Adapun fungsi guru Muhammadiyah adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai pengemban amanat Khalifah.
  2. Sebagai pengemban amanat risalah Islamiyah, dan
  3. Sebagai pembina Akhlaq.
  1. E.     Sikap Mental Guru Muhammadiyah

Guru Muhammadiyah dalam menjalankan tugasnya sewajarnyalah melandaskan sikap mentalnya atas prinsip-prinsip yang diisyaratkan dalam surat Al Bayyinah, ayat 5, yang artinya: ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan menuaikan ketaatannya kepada-Nya dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, dan demikian itulah agama yang lurus.”

Dengan demikian, seorang guru Muhammadiyah harus memiliki sifat mental:

  1. Siap menjalankan perintah Allah.
  2. Mempunyai jiwa pengabdian.
  3. Ikhlas dalam beramal.
  4. Memusatkan segala sesuatunya hanya kepada Allah.
  5. Melaksanakan shalat, dan
  6. Mempunyai keyakinan akan kebenaran agama Islam.

Disamping hal tersebut guru Muhammadiyah hendaknya berusaha meniru Rosullah sebagai sosok pendidik yang memiliki sifat:

  1. Rohmah.
  2. Sabar.
  3. Rendah hati.
  4. Lemah lembut.
  5. Pemberi maaf.
  6. Berkepribadian yang kuat, dan
  7. Khotimah.

BAB III

HAKEKAT PESERTA DIDIK

  1. A.    Pendahuluan

Dalam pandangan konvensional peserta didik diperlakukan sebagai objek didik karena hakekat peserta didik dipandang sebagai wadah yang harus diisi dengan pengetahuan dan ketrampilan. Oleh karena itu, pendasaran pengetahuan hakekat peserta didik menjadi sangat penting agar dapat diperoleh pemaknaan akan hakekat peserta didik dalam proporsinya. Berikut ini akan diuraikan berbagai pandangan tentang manusia sebagai subjek didik maupun objek didik.

  1. Dimensi Antropologi

Antropologi adalah ilmu yang mengkaji tentang asal usul, perkembangan serta karakter spesies manusia. Hakekat peserta didik dipandang sebagai homo sapiens yaitu makhluk hidup yang telah mencapai evolusi paling puncak.Dalam klasifikasi ini Mudyahardjo (2000:20-26) menerangkan peserta didik mempunyai ciri khas sebagaimana ciri manusia pada umumnya, yaitu:

  1. Berjalan tegak.
  2. Mempunyai otak besar dan kompleks.
  3. Hewan yang tergeneralisasi, dapat hidup dalam bebagai lingkungan, dan
  4. Periode kehamilan yang panjang dan lahir tidak berdaya.

Imran Manan (1989:12-13) menjelaskan bahwa dari dimensi Antropologi terdapat tiga prinsip tentang peserta didik yaitu:

Pertama, peserta didik dan manusia adalah makhluk sosial yang hidup bersama-sama dan saling mempengaruhi, sehingga peserta didik merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk mengisi dan melengkapi ketidaklengkapannya.

Kedua, peserta didik dipandang sebagai individualitas yaitu menampilkan sifat-sifat karakteristik yang khas dan memiliki struktur kepribadian yang berbeda dengan individu lainnya.

Ketiga, peserta didik harus dipandang mempunyai  moralitas. Karena peserta didik sesungguhnya adalah makhluk yang bermoral sehingga identitas moral sesungguhnya telah dimiliki sejak lahir.

  1. Dimensi Psikologi

Dalam perspektif psikologi ini, peserta didik dipandang sebagai individu yang mampu belajar, sebab memiliki karakteristik:

  1. Unik.
  2. Sebagai sebuah organism total.
  3. Mempunyai kesiapan bertindak.
  4. Mempunyai tugas-tugas perkembangan.
  5. Mempunyai berbagai kebutuhan.
  6. Mempunyai kecenderungan-kecenderungan umum dalam bertindak.
  7. Mempunyai tujuan khusus, dan
  8. Mempunyai motivator untuk dirinya sendiri.

Dalam pandangan modern peserta didik dipandang sebagai subjek didik sebab diakui eksistensinya sebagai pribadi yang otonom. Dalam hal ini ciri khas peserta didik diakui memiliki:

  1. Potensi fisik dan psikis yang khas sehingga merupakan individu yang unik.
  2. Potensi sebagai individu yang berkembang,
  3. Kebutuhan untuk dididik secara individual dan perlakuan yang manusiawi, dan
  4. Kemampuan untuk mandiri dan otonom.

Dalam sorotan lain tentang hakekat peserta didik, terdapat empat ciri alami yang diberikan pendidikan adalah sebagai berikut:

  1. Adanya sifat alami untuk tergantung dengan lingkungan sosial dan manusia lainnya.
  2. Peserta didik pada hakekatnya memiliki dorongan hidup dan mempertahankan eksistensinya.
  3. Pesrta didik sesungguhnya terdiri dari jasmani dan rohani, dan
  4. Individu yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang serta berubah secara fisik dan psikis.
  1. B.     Hakekat Peserta Didik sebagai Animal Educandum

Dalam dimensi antropologis, manusia dikategorikan sebagai primata, namun dalam realitanya manusia mampu untuk dididik sehingga dinamakan sebagai animal educandum. Pembuktian bahwa hakekat peserta didik adalah animal educandum ini diperkuat lagi dengan argumentasiyang berdimensi socio antropologis yang menegaskan bahwa setiap anggota masyarakatnya harus menguasai budaya masyarakat lingkungannya sehingga didalamnya harus menitinya dengan belajar agar menjadi warga masyarakat yang beradab.

Implikasi argumentasi socio antropologis ini menuntut bahwa animal berupa anak manusia memerlukan instrumen tranformasi dari organism biologis menuju kepada status organisme budaya serta didalamnya terjadi proses internalisasi budaya.

BAB IV

HAKEKAT PENDIDIKAN

  1. A.    Latar Belakang

Terminologi pendidikan merupakan terjemahan  dari istilah Pedagogi. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani Kuno Paidos dan Agoo. Paidos artinya budak dan ago artinya membimbing.       Akhirnya, pedagogie diartikan sebagai budak yang mengantarkan anak majikan untuk belajar. Dalam perkembangannya, pedagogie dimaksudkan sebagai ilmu mendidik. Hakekat pendidikan dibedakan menjadi 2 klasifikasi besar, yaitu:

  1. Pendekatan Reduksionisme

Tilaar (1999:19-32) mengelompokkan pendekatan ini meliputi enam teori, yaitu:

  1. Pendekatan Pedagogisme
  2. Pendekatan Filosofis
  3. Pendekatan Religius
  4. Pendekatan Psikologis
  5. Pendekatan Negativis
  6. Pendekatan Sosiologis
  7. Pendekatan Holistik
  8. B.     Karakteristik Pendidikan sebagai Pembelajaran

Ada beberapa syarat sesuatu kegiatan dinamakan pembelajaran, yaitu:

  1. Kegiatan harus dilakukan dengan sengaja dan terencana.
  2. Dilakukan oleh pihak yang memiliki kualifikasi dan profesionalisme yang diakui.
  3. Adanya interaksi edukasional.
  4. Kegiatan dilandasi metodologi pembelajaran.
  5.  Mempunyai tujuan instruksional .
  6. Verifikasi baik dalam proses maupun akhir kegiatan, dan
  7. Terdapat program yang direncanakan.
  1. C.    Karakteristik Pendidikan Indonesia

Pendidikan nasional Indonesia mempunyai ciri khas sebagai berikut:

  1. Berlandaskan nasionalisme kerakyatan anti penjajah.
  2. Berakar dari kebudayaan bangsa.
  3. Berakar dari kebinekaan.
  4. Mengembangkan kemampuan bangsa.
  5. Mengembangkan manusia seutuhnya, dan
  6. Menganut pendidikan seumur hidup.
  7. D.    Hakekat Pendidikan dalam Perspektif  Fungsi

Hakekat pendidikan dapat ditinjau dari aspek kegiatan interaksinya dan dalam tinjauan tujuan yang hendak dicapai, yaitu meliputi:

  1. Pendidikan sebagai fungsi transformasi budaya
  2. Pendidikan sebagai fungsi pembentukan pribadi
  3. Pendidikan sebagai fungsi penyiapan warga negara, dan
  4. Pendidikan sebagai fungsi penyiapan tenaga kerja.

BAB V

VISI DAN MISI PENDIDIKAN

  1. A.    Visi Pendidikan Nasional

Visi pendidikan nasional dimunculkan sebagai perekat ketika pengembangan pendidikan nasional dikembangkan. Disamping itu visi penting untuk memperkuat komitmen bangsa Indonesia dalam membangun pendidikan. Adapun visi pendidikan nasional adalah sebagai berikut: “Terwujudnya system pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwiba dan memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia berkualitas sehingga mampu dan mau menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.”

Visi tersebut diharapkan bermanfaat bagi penyelenggaraan pendidikan nasional sehingga diharapkan:

  1. Dapat membangun komitmen dan menggerakkan segenap komponen bangsa untuk menjadikan pendidikan sebagai salah satu pranata sosial yang kuat dan berwibawa serta memberdayakan warga Negara Indonesia.
  2. Dapat menciptakan masukan pendidikan bagi kehidupan bangsa dan dapat menjadi sarana untuk menjembatani keadaan sekarang dan masa akan dating, dan
  3. Dapat mendorong bangsa untuk mampu melakukan pembudayaan dan pemberdayaan system, iklim dan proses pendidikan yang demokratis dan mengutamakan mutu dalam lingkup nasional internasional.

Visi pendidikan nasional Indonesia dirumuskan berdasarkan keyakinan bahwa pendidikan merupakan prinsip pemberdayaan peserta didik sebagai subjek pendidikan serta seluruh pranata sosial yang ada dapat dijadikan sarana pencerahan sekaligus memberdayakan bagi kelangsungan hidup individu dan dapat untuk menjawab tantangan pembangunan.

  1. B.     Misi pendidikan Nasional

Misi merupakan penjabaran lebih lanjut dari visi pendidikan dalam dimensi lebih operasional fungsional. Atas dasar visi diatas maka misi pendidikan nasional Indonesia adalah:

  1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia.
  2. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar.
  3. Meningkatkan kesiapan input dan kualitas proses pendidikan untuk menuju pembentukan kepribadian yang bermoral agama, penguasaan ilmu pembentukan ketrampilan hidup.
  4. Meningkatkan profesionalitas dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai lembaga pembudayaan ilmu pengetahuan, ketrampilan, pengalaman, sikap dan dikembangkan berdasarkan standar nasional dan global, dan
  5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi daerah dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.

BAB VI

LANDASAN PENDIDIKAN NASIONAL

  1. A.    Pendahuluan

Pendidikan nasional sebagai wahana dan sarana pembangunan negara dan bangsa dituntut mampu mengantisipasi proyeksi kebutuhan masa depan. Tuntutan tersebut sangat bergayut dengan aspek-aspek penataan pendidikan nasional yang bertumpu pada basis kehidupan masyarakat Indonesia secara komprehensif

  1. B.     Macam-Macam Landasan
    1. Landasan filosofis

Dau pandangan yang dipertimbangkan dalam menentukan landasan filosofis dalam pendidikan nasional Indonesia.

Pertama, adalah pandangan tentang manusia Indonesia. Filosofis pendidikan nasional memandang manusia Indonesia sebagai:

  1. Makhluk Tuhan Yang Maha Esa dengan segala fitrahnya.
  2. Sebagai makhluk individu dengan segala hal dan kewajibannya, dan
  3. Sebagai makhluk sosial dengan segala tanggung jawaban hidup dalam masyarakat yang pluralistik baik dari segi lingkungan sosial budaya, lingkungan hidupdan segi kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah-tengah masyarakat global yang senantiasa berkembang dengan segala tantangannya.

Kedua, pandangan tentang pendidikan nasional itu sendiri. Dalam pandangan filosofis pendidikan nasional dipandang sebagai pranata sosial yang selalu berinteraksi dengan kelembagaan sosial lain dalam masyarakat.

Dengan adanya dua pandangan tentang pendidikan nasional ini menjadikan tugas penyelenggaraan pendidikan menjadi urusan dan kewajiban semua pihak sehingga pendidikan dibangun dengan komitmen yang kuat oleh semua unsur  bangsa serta berkontribusi dengan perkembangan pranata lainnya.

Dalam bab ini, landasan filosofis pendidikan nasional memberikan penegasan bahwa penyelenggaraan pendidikan nasional di Indonesia hendaknya mengimplementasikan kearah:

  1. Sistem pendidikan nasional Indonesia yang bertumpu pada norma persatuan bangsa dari segi sosial, budaya, ekonomi dan memelihara keutuhan bangsa dan negara.
  2. Sistem pendidikan nasional Indonesia yang proses pendidikannya memberdayakan semua institusi pendidikan agar individu dapat menghargai perbedaan individu lain, suku, ras, agama, status sosial ekonomi, dan golongan sebagai manifestasi rasa cinta tanah air.
  3. Sistem pendidikan nasional Indonesia yang bertumpu pada norma kerakyatan dan demokrasi.
  4. Sistem pendidikan nasional Indonesia yang bertumpu pada norma keadilan sosial untuk seluruh warga negara Indonesia, dan
  5. Sistem pendidikan nasional yang mampu menjamin terwujudnya manusia seutuhnya yang beriman dan bertaqwa, menjunjung tinggi hak asasi manusia, demokratis, cinta tanah air dan memiliki tanggung jawab sosial yang berkeadilan.
  6. Landasan Sosiologis

Pendidikan nasional yang berlandaskan sosiologis dalam penyelenggaraannya harus memperhatikan aspek yang berhubungan dengan sosial baik problemnya maupun demografis.

  1. Landasan Yuridis

Sebagai penyelenggaraan pendidikan nasional yang utama, perlu pelaksanaannya berdasar pada perundangan sehingga bangunan pendidikan nasional sah menurut Undang-Undang. Hal ini sangat penting karena hakekatnya pendidikan nasional adalah perwujudan dari kehendak UUD 1945 pasal 31.

                             DAFTAR PUSTAKA

Jumali, dkk. 2008. Landasan Pendidikan. Surakarta:  Muhammadiyah University        Press

Fasli Jalal dan Dedi Supriadi, 2001. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi daerah, Yogyakarta: Adicitra Karya Nusa

http://www.slideshare.net/VanadiumDesesa/landasan-pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: