Makalah Dasar Kurikulum

PROGRAM KURIKULUM DALAM KEGIATAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN

 

BAB 1

PENDAHULUAN

Pembahasan mengenai kurikulum tidak mungkin dilepaskan dari pengertian kurikulum, posisi kurikulum dalam pendidikan, dan proses pengembangan suatu kurikulum. Pembahasan mengenai ketiga hal ini dalam urutan seperti itu sangat penting karena pengertian seseorang terhadap arti kurikulum menentukan posisi kurikulum dalam dunia pendidikan dan pada gilirannya posisi tersebut menentukan proses pengembangan kurikulum.Ketiga pokok bahasan itu dikemukakan dalam makalah ini dalam urutan seperti itu.

Pembahasan mengenai pengertian ini penting karena ada dua alasan utama. Pertama, seringkali kurikulum diartikan dalam pengertian yang sempit dan teknis. Dalam kotak pengertian ini maka definisi yang dikemukakan mengenai pengertian kurikulum kebanyakan adalah mengenai komponen yang harus ada dalam suatu kurikulum. Untuk itu berbagai definisi diajukan para akhli sesuai dengan pandangan teoritik atau praktis yang dianutnya. Ini menyebabkan studi tentang kurikulum dipenuhi dengan hutan definisi tentang arti kurikulum.

Alasan kedua adalah karena definisi yang digunakan akan sangat berpengaruh terhadap apa yang akan dilakukan oleh para pengembang kurikulum. Pengertian sempit atau teknis kurikulum yang digunakan untuk mengembangkan kurikulum adalah sesuatu yang wajar dan merupakan sesuatu yang harus dikerjakan oleh para pengembang kurikulum. Sayangnya, pengertian yang sempit itu turut pula mnyempitkan posisi kurikulum dalam pendidikan sehingga peran pendidikan dalam pembangunan individu, masyarakat, dan bangsa menjadi terbatas pula.

Pembahasan mengenai posisi kurikulum adalah penting karena posisi itu akan memberikan pengaruh terhadap apa yang harus dilakukan kurikulum dalam suatu proses pendidikan. Tidak seperti halnya dengan pengertian kurikulum para akhli kurikulum tidak banyak berbeda dalam posisi kurikulum. Kebanyakan mereka memiliki kesepakatan dalam menempatkan kurikulum di posisi sentral dalam proses pendidikan. Kiranya bukanlah sesuatu yang berlebihan jika dikatakan bahwa proses pendidikan dikendalikan, diatur, dan dinilai berdasarkan criteria yang ada dalam kurikulum. Pengecualian dari ini adalah apabila proses pendidikan itu menyangkut masalah administrasi di luar isi pendidikan. Meski pun demikian terjadi perbedaan mengenai koordinat posisi sentral tersebut dimana ruang lingkup setiap koordinat ditentukan oleh pengertian kurikulum yang dianut.

Pembahasan mengenai proses pengembangan kurikulum merupakan terjemahan dari pengertian kurikulum dan posisi kurikulum dalam proses pendidikan dalam bentuk berbagai kegiatan pengembangan. Pengertian dan posisi kurikulum akan menentukan ap yang seharusnya menjadi perhatian awal para pengembang kurikulum, mengembangkan ide kurikulum, mengembangkan ide dalam bentuk dokumen kurikulum, proses implementasi, dan proses evaluasi kurikulum. Pengertian dan posisi kurikulum dalam proses pendidikan menentukan apa yang seharusnya menjadi tolok ukur keberhasilan kurikulum, sebagai bagian dari keberhasilan pendidikan.

BAB II

ISI

A. Prinsip-prinsip yang Digunakan Dalam Pengembangan Kurikulum

1.   Pengertian Prinsip Pembangunan Kurikulum

Secara gramatikal, prinsip berarti asas, dasar, keyakinan dan pendirian.  Dari pengertian ini tersirat makna bahwa kata prinsip menunjuk pada suatu hal yang sangat penting, mendasar, harus diperhatikan, memiliki sifat mengatur dan mengarahkan, serta sesuatu yang biasanya selalu ada atau terjadi pada situasi dan kondisi yang serupa.  Pengertian dan makna prinsip ini menunjukan bahwa prinsip itu memiliki fungsi yang sangat penting dalam kaitanya dengan keberadaan sesuatu.  Melalui pemahaman suatu prinsip, orang bisa menjadikan sesuatu itu lebih efektif dan efisien.  Prinsip juga mencerminkan hakikat yang dikandung oleh suatu,baik dalam dimensi proses maupun dimensi hasil, dan bersifat memberikan rambu-rambu atau aturan main yang harus diikuti untuk mencapai tujuan secara utuh.

Esensi dari pengembangan kurikulum adalah proses identifikasi, analisis, sintesis, evaluasi, pengambilan keputusan, dan kreasi elemen-elemen kurikulum.  Jika proses pengembangan kurikulum ingin berjalan secara efektif dan efesien, maka para pengembang kurikulum harus memperhatikan prinsip-rinsip pengembangan kurikulum, baik yang bersifat umum maupun khusus.

Selain dari pada itu, adanya berbagai prinsip pengembangan kurikulum merupakan suatu ciri bahwa kurikulum merupakan suatu area atau suatu lapangan studi (field of study) tersendiri.

2.  Macam-macam Sumber Prinsip Pengembangan Kurikulum.

Ada emapat sumber prinsip pengembangan kurikulum, yaitu : data empiris (empirical data), ata eksperimen (experiment data), cerita/ legenda yang hidup di masyarakat (folklore of curriculum), dan akal sehat (common sense) (Oliva, 1992:28).  Data empiris merujuk pada pengalaman yang terdokumentasi dan terbukti efektif, data eksperimen menunjuk pada temuan-temuan hasil penelitian.  Data hasil temuan penelitian merupakan data yang dipandang dijadikan prinsip dalam pengembangan kurikulum.

Semua jenis data tersebut dapat digunakan atau dimanfaatkan bagi kegiatan pengembangan kurikulum sebaai sumber prinsip yang akan dijadikan pegangan.

3.  Tipe-tipe Prinsip Pengembangan Kurikulum.

Pada dasarnya, tipe-tipe prinsip pengembangan kurikulum merupakan tingkat ketepatan (validity) dan ketetapan (realibility) prinsip yang digunakan.  Hal ini ada kaitanya dengan sumber-sumber dari prinsip pengembangan kurikulum itu sendiri.

Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum bisa diklasifikasikan menjadi tiga tipe prinsip , yaitu : anggapan kebenaran utuh atau menyeluruh (whole truth), anggapan kebenaran parsial (partial truth), dan anggapan kebenaran yang masih memerlukan pembuktian (hypothesis).  Anggapan kebenaran utuh adalah fakta, konsep dan prinsip yang diperoleh serta telah diuji dalam penelitian yang ketat dan berulang, sehingga bisa dibuat generalisasi dan bisa diberlakukan di tempat yang berbeda.

Anggapan kebenaran parsial, yatiu suatu fakta, konsep dn prinsip yang sudah terbukti efektif dalam banyak kasus, tetapi siftnya masih belum bisa digeneralisasikan.  Anggapan kebenaran yang masih memerlukan pembuktian atau hipotesis yaitu prinsip kerja yang sifatnya tentatif.  Prinsip ini muncul dari hasil deliberasi, judgement dan pemikiran akal sehat.  Pada dasarnya kesemua jenis tipe prinsip itu bisa digunakan.  Dalam praktik pembangunan kurikulum, biasanya kesemua tipe prinsip itu digunakan.

4.   Macam-macam Peinsip Pengembangan Kurikulum.

a.  Prinsip Umum.

Sukmadinata (200:150-151) menjelaskan bahwa terdapat lima prinsip umum  pengembangan kurikulum, yaitu “prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis atau efisiensi, dan efektivitas.”

i.              Prinsip Relevansi

Prinsip relebansi artinya prinsip kesesuaian.  Prinsip ini ada dua jenis yaitu relevansi eksternal (external relevance) dan relevansi internal (internal relevance).  Relevansi eksternal artinya kurikulum yang harus sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan msyarakat, baik kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang ada pada masa kini maupu kebutuhan yang diprediksi pada masa yang akan datang.

Sedangkan relevansi internal, yatiu kesesuaian antar komponen kurikulum itu sendiri.  Kurikulum merupakan suatu sistem yang dibangun oleh subsisten atau komponen, yaitu tujuan, isi, metode, dan evaluasi untuk mencapai tujuan tertentu, belajar dan kemampuan siswa.  Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang memenuhi syarat relevansi internal, yaitu adanya koherensi dan konsistensi atar komponen.

ii.              Prinsip Fleksibilitas

Prinsip fleksibilitas berarti suatu kurikulum harus lentur (tidak kaku), terutama dalam hal pelaksanaannya.  Pada dasarnya, kurikulum didesain utnuk mencapai suatu tujuan tertentu sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan tertentu.

iii.              Prinsip Kontinuitas

Prinsip kontinuitas artinya kurikulum dikembangkan secara berkesinambungan, yang meliputi sinambung antar kelas maupun sinambung antar jenjang pendidikan.  Hal ini dimaksud agar proses pendidikan atau belajar siswa bisa maju secara berkesinambungan.

iv.             Prinsip Prkatis atau Efisiensi

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan prinsip praktis, yaitu dapat dan mudah diterapkan di lapangan.  Kurikulum harus  bisa diterapkan dalam praktik pendidikan, sesuuai dengan situasi dan kondisi tertentu.  Oleh karena itu, para pengembang kurikulum itu akan digunakan.

Salah satu kriteria praktis itu adalah efiseensi, artinya tidak mahal alias  murah.  Hal ini mengingat sumber daya pendidikan, personel-dana-fasilitas, keberadaannya terbatas.  Murah di sini merujuk pada pengertian bahwa kurikulum harus dikembangkan secara efisien, tidak boros, dan sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki.

v.            Prinsip Efektivitas

Prinsip ini menunjukkan pada suatu pengertian bahwa kurikulum selalu berorientasi pada tujuan tertentu yang ingin dicapai.  Kurikulum merupakan instrumen ntuk mencapai tujuan.  Oleh karena itu, jenis dan karakteristik tujuan apa yang ingin dicapai harus jelas.  Kejelasan tujuan akan mengerahkan dalam pemilihan dan penentuan isi, metode dan sistem evaluasi, serta model konsep kurikulum apa yang akan digunakan.  Disamping itu, tujuan juga akan mengerahkan dan memudahkan dalam implementasi kurikulum itu sendiri.

Tugas dan tanggung jawab para pengembang kurikulum tersebut tidak akan sulit jika mengikuti prinsip-prinsip pengembangan kurikulum.  Adapun kesepuluh prinsip (axioms) pengembangan kurikulum yang diajukan Oliva, yaitu :

a)      Perubahan kurikulum adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dan bahkan diperlukan.

b)      Kurikulum merupakan produk dari masa yang bersangkutan.

c)      Perubahan kurikulum masa lalu sering  terdapat secara bersamaan bahkan tumpang tindih dengan perubahan kurikulum yang terjadi masa kini.

d)     Perubahan kurikulum akan terjadi dan berhasil sebagai akibat (dan jika ada) perubahan pada orang-orang atau masyarakat.

e)      Pengembangan kurikulum adalah kegiatan kerja sama kelompok.

f)       Pengembangan kurikulum pada dasarnya adalah proses menentuan pilihan dari sekian alternatif yang ada.

g)      Pengembangan kurikulum adalah  kegitan yang tidak akan pernah berakhir.

h)      Pengembangan kurikulum akan berhasil jika dilakukan secara komprehensif, bukan aktivitas bagian per bagian yang terpisah.

i)        Pengembang kurikulum akan lebih efektif jika  dilakukan dengan proses yang sistematis.

j)        Pengembangan kurikulum dilakukan berangkat dari kurikulum yang ada.

Manfaat yang yang bisa kita ambil adalah prinsip umum pengembangan kurikulum menurut kedua ahli tersebut bisa dugunakan secara bersamaan karena akan saling melengkapi dan slaing menunjung.

b.  Prinsip Khusus

prinsip-prinsip pengembangan kurikulum khusus lainnya, yaitu  merujuk pada prinsip-prinsip pengembangan komponen-komponen kurikulum, yang mana antara satu komponen dengan komponen lainya memiliki prinsip yang tidak sama.  Prinsip pengembangan kurikulum khusus yang dimaksud adalah :

  1. Prinsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan.

Perumusan tujuan pendidikan bersmber pada :

a)      Ketentuan dan kebijakan  pemerintah, yang dapat ditemukan dalam dokumen-dokuumen lembaga negara mengenai tujuan dan strategi pembangunan termasuk di dalamnya pendidikan.

b)      Survei mengenai persepsi orang tua dan masyarakat lainya tentang kebutuhan mereka yang diperoleh melalui angket atu wawancara dengan mereka.

c)      Survei tentang pandangan para aklli dalam bidan-bidang tertentu, dihimpun melalui angket, wawancara, observasi, dan dari berbagai media massa.

d)     Survai tentang manpower (sumber daya manusia/tenaga kerja).

e)      Pengalaman negara-negara lain dalam masalah yang sama.

f)       Penelitian.

  1. Prinsip yang berkenan dengan isi pendidikan

Beberapa perimbangan yang perlu dilakikan untuk menentukan isi pendidikan/kurikulum, yatiu :

a)      Perlu penjabatan tujuan pendidikan, kurikulum dan pembelajaran ke dalam perubatan hasil belajar yang khusus dan sederhana.

b)      Isi bahan pelajaran harus meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan.

c)      Unit-unit kurikulum harus disusun dlam urutan yang logis dan sistematis.

  1. Prinsip berkenaan dengan proses pembelajaran

Untuk menentukan pendekatan, strategi dan teknik apa yang akan digunakan dalam proses pembelajaran, hendaknya pengembang kurikulum memperhatikan hal-hal berikut ini :

a)      Apakah strategi/metode/teknik yang akan digunakan dalam proses pembelajaran cocok untuk mengajarkan bahan pelajaran?

b)      Apakah strategi/metode/teknik tersebut menunujukan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa?

c)      Apakah strategi/metode/teknik tersebut dapat memberikan uturan kegiatan yang beringkat-tingakat?

d)     Apakah strategi/metode/teknik tersebut dapat menunjukkan berbagai kegiatan siswa untuk mencapai tujuan kognitif, afektif, dan psikomotorik?

e)      Apakah strategi/metode/teknik tersebutberorientasi kepada siswa, atau berorientasi kepada guru, atau keduanya?

f)       Apakah strategi/metode/teknik tersebut dapat mendorong berkembangnya kemampuan baru?

g)      Apakah strategi/metode/teknik tersebut dapat menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan di rumah, juga mendorong penggunaan sumber belajar (learning resources) yang ada di rumah dan masyarakat?

h)      Untuk belajar keterampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar yang menekakankan “learning by seeing and knowing”.

  1. Prinsip berkenaan dengan media dan alat bantu pembelajaran

Beberapa prinsip yang busa dijadikan pegangan untuk memilih dan menggunakn media dan alat bantu pembelajaran :

a)      Media atau alat bantu apa yang diperlukan dalam proses pembelajaran? apakah semuanya sudah tersedia? Bila alat tersebut tidak ada, apakah ada penggantinya?

b)      Kalau ada yang harus dibuat, hendaknya memerhatikan bagaimana membuatnya, sipa yang membuat, pembiayaanya, serta waktu pembuatannya?

c)      Bagaimana pengorganisasian media dn alt bantu pembelajaran, apakah dalam bentuk modul, paket belajar atau ada bentuk lain?

d)     Bagaimana pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan pembelajaran?

e)      Hasil yang terbaik akan diperoleh degan menggunakan multi media.

  1. Prinsip yang berkenaan dengan evaluasi

Evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembelajaran.  Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam fse perencanaan evaluasi yaitu:

a)      Bagaimanakah karakteristik kelas, usia, tingkat kemampuan kelompok yang akan dinilai?

b)      Berapa lama waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan evaluasi?

c)      Teknik evaluasi apa yang akan digunakan? Tes, nontes atau keduanya

d)     Jika teknik tes, berapa banyak butir soal yang perlu disusun?

e)      Apakah tes tersebut diadministrasikan oleh guru atau murid?

Dalam pengembangan alat evaluasi, sebaiknya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

a)      Rumuskan tujuan-tujuan pendidikan yang umum dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

b)      Uraikan ke dalam bentuk tingkah laku murid yang dapat diamati dan diurkur.

c)      Hubungkan dengan bahan pembelajaran.

d)     Tukliskan butir-butir soal atau tugas.

Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengolaan hasil penilaian:

a)      Norma penilaian apa yang akan digunakan dalam pengelolaan hasil tes?

b)      Apakah akan digunakan rumus atau formula guessing?

c)      Bagaimana mengubah skor mentah (raw score) ke dalam skor masak?

d)     Skor standar apa yang akan digunakan?

e)      Untuk apakah hasil tes digunakan?

f)       Bagaimana menyusun laporan hasil evaluasi?

g)      Laporan hasil evaluasi ditujukan kepada siapa saja?

Demikian uraian tentang prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang lazim digunakan. Selain itu penting untuk diketahui, dalam literatur tentang kurikulum masih banyak para ahli yang mengajukan dan membahs tentang prinsip-prinsip pengembangan kurikulum.  Adapun yang dijadikan rujukan dalam tulisan ini hanya beberapa saja.  Meskipun demikian, untuk pengetahuan awal atu penghantar dan untuk kepentingan praktis dinilai cukup memadai.

B. Struktur Program Kurikulum dan Implikasinya Dalam Kegiatan Administrasi Pendidikan.

Pengertian Administrasi

Secara harfiah administrasi berasal dari bahasa latin, yang terdiri dari kata ad dan ministrare yang berarti membantu, melayani atau mengarahkan. Dalam bahasa Inggris disebut administration (Nawawi dalam Ahmad Sabri, 2000). Dalam kamus besar bahasa Indonesia (2008:13) dijelaskan bahwa, administrasi adalah 1. Segala usaha bersama untuk mendayagunakan semua sumber secara efektif dan efisien., 2. Kegiatan-kegiatan yang berupa kerangka kerja dari kebijakan yang dikeluarkan oleh manajer; tata usaha.

Jadi kata administrasi dapat diartikan sebagai segala usaha bersama untuk membantu, melayani dan mengarahkan semua kegiatan, dalam mencapai suatu tujuan.

Kegiatan Administrasi Kurikulum

Gunawan (1996:80) menjelaskan bahwa, secara operasional kegiatan administrasi kurikulum dapat di identifikasikan menjadi tiga kegiatan pokok yakni; 1. Kegiatan yang berhubungan dengan tugas guru atau pendidik, 2. Kegiatan yang berhubungan dengan peserta didik, dan 3. Kegiatan yang berhubungan dengan seluruh sivitas akademika atau warga sekolah. Disamping itu Sabri (2000) menambahkan kegiatan lain yang menyangkut administrasi kurikulum yakni; kegiatan yang menyangkut proses belajar mengajar (PBM), karena kegiatan ini erat kaitannya dengan ketiga kegiatan pokok di atas. Untuk lebih memahami apa dan bagaimana sebenarnya kegiatan administrasi itu, dapat dilihat dari uraian dibawah ini.

Komponen Materi (Isi dan Struktur Program)

Isi Kurikulum

Sebagai mana kurikulum 1975 maka untuk kurikulum SPG yang berlaku saat berisi :

(1)     Pokok-pokok bahasan adalah merupakan perincian bidang pengajaran untuk dijadikab bahan pelajaran bagi para. siswa agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan

(2)     Bahan pengajaran adalah mutan penyampaian pokok bahasan tersebut dari yang satu ke tahun pelajaran yang berikutnya, dari semester yang satu ke semester yang berikutnya

(3)     Sumber bahan yaitu bempa resources dimana proses belajar mengajar memperoleh sejumlah pengalaman belajar. Sumber ini dapat berupa tempat (museum, kantor, stasiun dan sebagainya), orang ( camat, kep. Desa, petani, sopir dan sebagainya), atau barang cetakan (buku, majalah, surat kabar, brosur dan sebagainya.)

(4)     Garis-garis besar program pengajaran (GBPP), adalah merupakan penjelasan terperinci dari setiap bidang pengajaran yang telah ditentukan pembagian dan penyebaran waktunya dalam seminggu, catur wulan, semester seperti yang diatur dalam struktur program kurikulum, dalam GBPP berisi:

(a)    Tujuan kurikululer

(b)   Tujuan instruksional

(c)    Pokok babasan/sub pokok bahasan

(d)   Bahan pengajaran

(e)    Sumber bahan.

Sruktur Program

Untuk struktur program ini jelasnya dapat dilihat pada lampiran. Program pendidikan (di SPG)

Program Pendidikan di SPG terdiri dari :

  1. Pendidikan untum meliputi pendidikan Agama, Pendidikan Moral Pancasila, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, o1ah Raga dan Kesehatan.
  2. Pendidikan Keguruan meliputi ilmu keguruan dan praktek keguruan.
  3. Pergajaran di SD/pendidikan spesialisasi/pembangunan meliputi IPS, Matematika, Pendidikan Kesenian, Pendidikan Keterampilan.

 Koomponen Organisasi dan Strategi

Disamping tujuan dan isi, setiap kurikulum mengandung unsur organisasi dan strategi.

1. Organisasi

Struktur (susunan) program suatu kurikulum mengenai apa yang disebut struktur horizontal dan struktur vertikal.

  1. Struktur Horizontal

Struktur horizontal suatut kurikulum berkenaan dengan apakah kurikulum im diorganisasikan dalam bentuk :

  1. Mata-mata pelajaran secara terpisah (subjec centered) misalnya : Biologi, Fisika, Sejarah, Ilmu bumi dan sebagainya.
  2. Kelompok-kelompok mata pelajaran yang kita sebut bidang studi (broadfield) misalnya IPS, IPA. Kesenian, Matematika dan sebagainya.
  3. Kesatuan program tanpa mengenai mata pelajam maupun bidang studi (integrated program).

Selanjutnya, dalam struktur horizontal tercakup pula jenis-jenis program yang dikembangkan dalam kurikulum tersebut, misalnya program pendidikan unnum, program pendidikan keguruan, program spesialisasi dan sebagainya.

  1. Struktur Vertikal

Struktur vertikal suatu kurikulum berkenaan dengan apakah kurikulum tersebut dilaksanakan melalui :

  1. Sistem kelas misalnya kelas l, II, III dan seterusnya dimana kenaikan kelas diadakan disetiap tahun secara serempak.
  2. Program tanpa kelas, dimana perpindahan dui suatu tingkat program ke tingkat program berikutnya dapat dilakukan setiap waktu tampa harus menunggu teman-teman yang lain.
  3. Kombinasi antara sistem A dan B.

Selanjumya, dalam struktur vertikal ini tercakup pula sistom unit waktu yang digunakan, misalnya apakah sistem semester atau catur wulan.

Akhirnya struktur program ini menyangkut pula masalah penjadwalan dan pembagian waktu untuk masing-masing bidang studi, isi kurikulum pada setiap tingkat atau kelas.

2. Strategi

Strategi pelaksanaan suatu kurikulum tergambar dari cara yang ditempuh didalam melaksanakan pengajaran, dan didalam mengadakan penilaian, cara didalam melaksanakan bimbingan dan penyuluhan dan cara dalam mengatur kegiatan sekolah secara keseluruhan.

Cara dalam melaksanakan pengajaran mencakup baik cara yang berlaku secara umum maupun cata dalam menyajikan setiap bidang studi, termasuk cara (metode) mengajar dan pelajaran yang digunakan.

Komponen metode ini menyangkut komponen metode atau upaya apa saja yang dipakai agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Dalam hal ini tentu saja metode yang dipergunakan hendaknya relevan terhadap tujuan yang ditetapkan sebelumnnya, dengan mempertimbangkan kemampuan guru, lingkungan anak serta sarana pendidikan yang ada. Dalam pelaksanaannya tidak ada satu metode yang baik untuk segala tujuan, atau dengan kata lain kita harus memperhatikan tujuan dan situasi, karena suatu metode cocok untuk mencapai suam tujuan akan tetapi belum tentu cocok untuk mencapai suatu tujuan yang lain. Untuk itu guru harus mengetahm kapan ia harus menggunakan metode mengingat sifat-sifat polivalent dan polipragmatis dari suatu metode.

Dengan polipragmatis dimaksud adalah penggunaan satu metode untuk mencapai tujuan lebih dari satu tujuan; sedang polivalent adalah penggunaan lebih dari satu metode untuk mencapai satu tujuan. Dalam penympaian seperti kurikulum yang berIalw niisalnya (kurikulum 1975) kurikulum SPH juga menggunakan pendekatan PPSI yang dikembangkan melalui satuan pelajaran dan modul. Dengan metode ini proses pengajaran (belajar-mengajar) dipandang sebagai suaw sistem. Adapun macam-macam metode dapatlah kita kemukakan sebagai contoh metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi, eksperimen, pemberian tugas, karyawisata, sosiodrama, bermain peranan, kerja kelompok diskusi, simposium, seminar dan sebagainya.

Komponen Sarana dalam Kurikulum Lembaga Pendidikan Guru (SPG) meliputi

  1. Sarana personal yang terdiri dari:
    1. Sarana material yang terdiri dari:
    1. Guru
    2. Tenaga edukatif yang tidak mengajw seperti konselon
    3. Tenaga teknis non edukatif misaInya tenaga tata usaha.

1)     Bahan instruksional dalam bentuk bahan instruksional, teksbook, alat atau media pendidikan, sumber yang menyediakan bahan instruksional atau pengalaman belajar dan sebagainya.

2)     Sarana fisik yang terdin dari gedung sekolah, kantor, laboratorium, lapangan batsman sekolah dan sebagainya.

3)     Biaya operasional yaitu tersedianya biaya dan dana untuk penyelengguaan pendidikan.

  1. Sarana Kepemimpinan

Sarana kepemimpinam ini akan memberi dukungan dan pengamanan pelaksanaan, serta member! bimbingan. penggunaan dan menyempurnakan program pendidikan.

  1. Sarana Administrasi

Pendidikan administratif disini dapat disebutKan sebagai

-          Pedoman Khusus Bidang Pengajaran

-          Pedoman Penyusunan Sawn Pelajaran

-          Pedoman Praktek Keguruan

-          Pedoman Bimbingan Siswa

-          Pedoman Administrasi Dan Supervisi

  1. Komponen Evalusasi

Pendidikan adalah sebagian dari keperluan manusia. Sekolahpun mempalari keperluan dari masyarakat. Untuk itu maka sekolah termasuk juga didalamnya termasuk juga harus peka terhadap perubahan-pembahan yang terjadi di masyuakat. Oleh karena itu kurikulum sebagai bahan konsumsi dari anal didik dm sekaligus juga konsumsi bagi masywakat juga harus dinilai terus menems serta menyclums terhadap bahan atau program pengajuan. Disamping itu penilaian terhadap kurikulum dimaksudkan juga sebagai feedback terhadap tujuan, materi metode dan sarana dalam rangka membina dan memperkembangkan kurikulum lebih lanjut. Sedangkan penilaian dapat dilakukan oleh semua pihak baik dari kalangan masyarakat luas maupun dari kalangan petugas-petugas pendidik

IMPLEMENTASI
Implementasi sering kurang diperhatikan oleh ahli-ahli teori
kurikulum. Implementasi dihubungkan dengan pengajaran, dan melupakan
dampak multi dimensional dan perubahan yang kompleks. Fullan, 1982
(dalam Achasius Kaber. 1988) menyatakan kurikulum dapat mengalami
perubahan dalam tiga tingkat :
1)   Bahan : menggunakan alat pelajaran baru, bahan yang direvisi atau teknologi pendidikan.
2) Strategi pendekatan mengajar : praktek, kegiatan strategi yang baru oleh guru.
3) Keyakinan atau pandangan : asumsi-asumsi, teori baru sesuai
dengan pengembangan masyarakat, politik dan sebaganya.
Perubahan menyangkut pola proses, individu yang dilibatkan, peranan
baru, adaptasi, fasilitas, nilai etik, dan tanggung jawab profesional.
Tujuan implementasi tidak hanya melaksanakan sesuatu yang baru tetapi
mengembangkan kemampuan sekolah, sistem sekolah, perkembangan individu
untuk mampu memproses inovasi dan revisi.
Implementasi yang efektif sukar terjadi karena implementasi
berlangsung dalam lingkungan yang kompleks, sistem sekolah, pola
struktur yang telah dikembangkan sebelumnya. Implementasi merupakan
suatu proses bukan produk, menyangkut kerjasama berbagai pengalaman,
dan rasa ikut mengambil bagian. Ini berarti adanya interaksi antara
pembina kurikulum dari guru, yang menuju adaptasi bersama.
Implementasi pada dasarnya tergantung dari pengembangan profesional,
penataran-penataran program baru, tidak cukup dalam waktu yang singkat
dan tanpa tindak lanjut.

BAB III

KESIMPULAN

Prinsip adalah sesuatu yang sifatnya sangat penting dan mendasar
terlahir dari dan menjadi suatu kepercayaan. prinsip-prinsip
pengembangan kurikulum menunjuk pada pengertian tentang berbagai hal
yang harus dijadikan patokan dalam menentukan berbagai hal yang
terkait dengan pengembangan kurikulum, terutama dalam faseperencanaan
kurikulum (curriculum planning), yang pada dasarnnya prinsip-prinsip
tersebut merupakan ciri dari hakikat lurikulum itu sendiri.
Setidaknya ada empat sumber prinsip pengembangan kurikulum, yaitu :
data empiris (empirical data), data eksperimen (experiment data),
cerita /legenda yang hidup di masyarakat (folklore of curriculum), dan
akal sehat (common sense). Data empiris dan data eksperimen merupakan
data yang dianggap paling terpecaya dibanding legenda dan pertimbangan
akal sehat. Sesuai dengan sumber datanya, maka prinsip-prinsip
pengembangan kurikulum itu bisa diklasifikasikan menjadi tiga tipe
prinsip yaitu anggapan kebenaran utuh atau menyeluruh (whole truth),
anggapan kebenaran parsial (partial truth), dan anggapan kebenaran
yang masih memerlukan pembuktian (hypothesis). Prinsip-prinsip
pengembangan kurikulum bisa dibedakan  dua kategori yaitu prinsip umum
dan prinsip khusus. Prinsip umum biasanya digunakan hampir dalam
setiap pengembangan kurikulum dimanapun. Prinsip umum pengembangan
kurikulum meliputi prinsip relevansi, fleksibel, kontinyuitas, praktis, atau efisien dan efektifitas. Prinsip khusus artinya prinsip yang hanya berlaku di tempat tertentu dan situasi tertentu. Prinsip khusus ini juga merujuk  pada
prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan komponen-komponen
kurikulum secara tersendiri, misalnya prinsip yang digunakan untuk
mengembangkan komponen tujuan, prinsip untuk mengembangkan komponen
isi kurikulum, prinsip-prinsip untuk mengembangkan media dan alat,
serta prinsip untuk menentukan penilaian. Dimana prinsip pengembangan
satu komponen dengan komponen lainnya akan berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

  • Deekape.2011.”Prinsip Pengembangan Kurikulum” (online), (http://dheekape.blogspot.com/2011/11/prinsip-pengembangan-kurikulum.html, diakses pada tanggal 9 Januari 2012)
  • Wandi,Gusri. 2011. “Administrasi Kurikulum” (online), (file:///D:/TUGAS/semester%203/DASAR2%20KURIKULUM/admini strasi-kurikulum.html, diakses pada tanggal 10 Januari 2012)
  • Eno,Enonk. 2011. “Administrasi Kurikulum” (online), (file:///D:/TUGAS/semester%203/DASAR2%20KURIKULUM/Admini strasi%20Kurikulum.htm, diakses pada tanggal 10 Januari 2012)
  • Badarudin.2011. “ Komponen-komponen Kurikulum” (online), file:///D:/TUGAS/semester%203/DASAR2%20KURIKULUM/Komponen-Komponen%20Kurikulum%20%C2%AB%20Badarudin,%20S.Pd.%20_%20PGSD%20FKIP%20UM%20Purwokerto.htm , diakses pada tanggal 10 Januari 2012)
  • Ruhimat,Toto,dkk. 2011. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Leave a comment »

ARTIKEL PENDIDIKAN

UJUNG TOMBAK PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

 

Mutu Pendidikan sudah lama menjadi bahan perbincangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa mutu pendidikan di Indonesia belum menggembirakan. Kondisi sekolah, seperti kurikulum sekolah yang tidak disahkan dan direview, banyaknya peserta didik yang belum dapat mencapai kompetensi yang diharapkan, proses pembelajaran yang belum sesuai standar, partisipasi masyarakat yang semakin menurun, kerusakan gedung sekolah, kurangnya kualitas guru di daerah, serta masalah pemerataan guru  masih banyak dijumpai.

Sebagai komitmen terhadap mutu, pemerintah merancang  sistem penjaminan mutu pendidikan (SPMP). SPMP dituangkan dalam Permendiknas No. 63 tahun 2009. Dalam Permendiknas tersebut dinyatakan bahwa “Penjaminan mutu adalah serangkaian proses dan sistem yang terkait untuk mengumpulkan , menganalisis, dan melaporkan data mutu tentang  kinerja staf, program, dan lembaga” . Dengan demikian dalam rangka mengimplementasikan SPMP diawali dengan kegiatan mengumpulkan data berdasarkan kondisi real untuk mendapatkan data yang valid. Data yang terkumpul akan dianalisis dan dilaporkan, dan digunakan sebagai sumber data dalam menyusun program atau kebijakan selanjutnya. Akhirnya akan tersusun program-program dari data yang buttom up, sesuai kebutuhan dan tepat sasaran bagi peningkatan mutu pendidikan. Kegiatan ini dilakukan  terus menerus untuk menciptakan budaya mutu.

Sekolah adalah ujung tombak penjaminan mutu. Namun demikian keberhasilan implementasi SPMP tidak hanya tanggung jawab satu lembaga atau satu individu saja. Implementasi SPMP diperlukan komitmen dari berbagai pihak terkait. Dapat dikatakan quality is everybody bisnis atau mutu adalah tanggung jawab setiap orang.

Berkaitan dengan perannya sebagai ujung tombak penjaminan mutu, sekolah wajib mengoperasionalkan delapan standar nasional pendidikan yang meliputi: Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Penilaian, Standar Proses, Standar Pengelolaan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, serta Standar Pembiayaan. Kedelapan  Standar Nasional Pendidikan inilah yang dijadikan sebagai acuan mutu pendidikan. Dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dinyatakan bahwa “Dalam rangka melakukan penjaminan mutu pendidikan pemerintah menetapkan standar nasional pendidikan”. Dengan demikian sekolah wajib mencapai atau melampaui delapan standar nasional pendidikan tersebut. Dokumen delapan standar nasional pendidikan menjadi dokumen wajib bagi sekolah untuk dimiliki, dikaji, dianalisis dan diimplementasikan di sekolah.

Kegiatan yang dapat dilakukan oleh sekolah dalam mengimplementasikan SPMP, diantaranya adalah melakukan Evaluasi Diri Sekolah (EDS). EDS adalah proses evaluasi diri  yang didorong secara internal oleh sekolah itu sendiri dengan melibatkan  pemangku kepentingan guna melihat kinerja sekolah terhadap pencapaian SPM dan SNP yang hasilnya dipakai sebagai dasar dalam peningkatkan mutu proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa yang terumuskan dalam RKS.

Sekolah melakukan EDS karena merasa perlu mengevaluasi kinerjanya terhadap pencapaian standar nasional pendidikan. EDS dilakukan oleh sekolah dan untuk sekolah. Jadi EDS dilakukan karena komitmen dari pihak sekolah sendiri untuk selalu memperbaiki dan mengembangkan sekolahnya, bukan karena tuntutan pihak luar, misal karena dikejar-kejar atau diminta laporan oleh pihak dinas atau LPMP.

Sebagian sekolah telah melaksanakan EDS. Beberapa hal yang perlu ditindaklanjuti dalam pelaksanaan EDS adalah sebagai berikut: 1) Keterlibatan komite dan orang tua belum optimal; 2) Pembinaan pengawas ke sekolah binannya belum optimal; 3) Kemampuan mengoperasikan computer pada beberapa sekolah masih kurang; 4) Adanya sekolah yang tidak memiliki komitmen untuk melakukan EDS.

Komite dan wakil orang tua sebagai anggota tim pengembang sekolah belum optimal melakukan tugasnya. Komite dan wakil orang tua di beberapa sekolah sekedar menghadiri kegiatan pengisian instrument EDS, tetapi tidak terlibat memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran untuk mengisi dan menganalisis instrument EDS. Bahkan beberapa sekolah merasa enggan untuk melibatkan komite dan wakil orang tua karena beranggapan tidak ada artinya pelibatan mereka. Untuk itu perlu perubahan pola pikir dari pihak sekolah bahwa keterlibatan komite dan orang tua ini sangat dibutuhkan dalam melakukan EDS. Tidak hanya sekedar tertulis dalam SK, penunjukan komite dan wakil orang tua harus yang benar-benar memiliki komitmen dan kapasitas untuk turut mengembangkan sekolah melalui kegiatan EDS. Dengan keterlibatan komite dan orang tua membuat mereka memahami kondisi sekolah dan kondisi yang harus dicapai sekolah, yang selanjutnya dapat memunculkan komitmen dan tanggung jawab yang lebih tinggi untuk turut serta mengembangkan sekolahnya.

Peran pengawas dalam implementasi EDS di satuan pendidikan dapat dikatakan belum optimal, meskipun tidak terjadi pada semua pengawas. Ada sebagian pengawas yang tidak benar-benar mendampingi sekolah binaannya untuk mengisi dan menganalisis EDS. Bahkan dijumpai pengawas yang belum memahami apa, mengapa dan bagaimana EDS. Sementara pengawas merupakan anggota tim pengembang sekolah, peran pengawas adalah membina sekolah dalam melakukan EDS sekaligus memonitor valid atau tidaknya data EDS, karena data ini akan digunakan sebagai dasar dalam penyusunan laporan monitoring sekolah oleh pemerintah daerah (MSPD). Dengan demikian keterlibatan pengawas dalam melakukan EDS mempermudah tugasnya dalam menyusun MSPD.

Kurangnya penguasaaan ICT juga menjadi kendala dalam pelaksanaan EDS. Khususnya pada jenjang pendidikan dasar. Keterbatasan SDM dalam mengoperasikan komputer menyebabkan kesulitan untuk menyelesaikan EDS. Kondisi yang dijumpai adalah sebagian sekolah memiliki hard copi laporan EDS tetapi file tidak ditemukan bahkan sudah tidak tersimpan lagi, ini menjadi kendala dalam memperbaiki data. Penguasaan ICT mendukung keterlaksanaan EDS, apalagi dengan adanya instrument EDS online yang harus diisi oleh sekolah berdasarkan EDS manual. Selain itu beberapa sekolah yang telah memiliki fasilitas on line mempermudah komunikasi dengan pendampingan, melalui pemanfaatan email, chatting, web/blog, facebook dan sebagainya sehingga EDS terlaksana lebih optimal.

Sementara itu sekolah yang memiliki sumber daya memadai tetapi tidak  ada komitmen untuk melakukan EDS juga menjadi kendala. Sejak awal sekolah tidak merespon program EDS, karena belum merasakan manfaat dari EDS.  Hal tersebut membutuhkan kerjasama yang lebih erat dan komunikasi yang lebih intensif antara pendamping, pengawas dan pihak sekolah.

Dengan perannya sebagai ujung tombak penjaminan mutu, sekolah memerlukan dukungan dari berbagai pihak terkait. Beberapa kegiatan yang tidak dapat ditindaklanjuti oleh sekolah tentunya akan ditindak lanjuti oleh pemerintah daerah baik kab/kota, propinsi, maupun pemerintah pusat, termasuk LPMP sesuai dengan kewenangannya masing-masing.

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) benar-benar harus terpahami dan terinternalisasi pada diri setiap pemangku kepentingan. Sudah saatnya untuk mengubah pola kerja yang berorientasi kuantitas atau keterlaksanaan tugas menuju orientasi mutu / kualitas. Sampai saat ini kita masih merasakan bahwa program-program yang dilakukan berbagai instansi terkait masih sekedar berjalan atau hanya mencapai target kuantitas. Budaya mutu yang seharusnya dibangun tidak hanya di sekolah belum tercipta.

Dari uraian di atas dapat dinyatakan bahwa sistem penjaminan mutu pendidikan dapat terimplementasi sesuai yang diharapkan dan mampu meningkatkan mutu pendidikan ketika ada komitmen dari semua pihak terkait. Sekolah meningkatkan perannya sebagai ujung tombak penjaminan mutu pendidikan. Instansi terkait lainnya menjalankan peran sesuai wewenangnya masing-masing. Bersama-sama membangun budaya mutu. Hal tersebut bukan sebuah pekerjaan yang semudah membalikkan telapak tangan, tetapi membutuhkan kerja keras dan usaha. Karena tidak akan ada artinya ketika sistem sudah baik tetapi SDM yang ada tidak memiliki komitmen untuk mencapai mutu.

Menurut saya Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.

DAFTAR PUSTAKA

http://lpmpsulsel.net

http://edu-articles.com/sistem-komunikasi-perencanaan-pendidikan/

Leave a comment »

Makalah Prkembangan Peserta Didik

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN

ANAK USIA SEKOLAH DASAR

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kami sehigga penyusun  dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “IMPLEMENTASI PENDIDIKAN ANAK USIA SEKOLAH DASAR” .

Penyusun makalah ini bertujuan untuk memenuhi syarat nilai mata kuliah Perkembangan Peserta Didik dan untuk mengetahui perkembangan pendidikan anak usia Sekolah Dasar. Penulis menyadari bahwa apa yang disajikan dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, baik menyangkut isi maupun penulisan. Kekurangan-kekurangan tersebut terutama disebabkan karena kelemahan dan keterbatasan pengetahuan serta kemampuan penulis. Hanya dengan kearifan dan bantuan dari berbagai pihak untuk memberikan kritik dan saran yang konstruktif maka kekurangan-kekurangan tersebut dapat diperkecil. Namun dalam penulisan makalah ini ada sepercik harapan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, serta diridhai oleh Allah SWT amin.

Surakarta, 26 Maret 2009

                                                                                                Penulis

BAB 1

PENDAHULUAN

  1. A.    LATAR BELAKANG

Karakteristik perkembangan anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa ini  seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.

  1. B.     RUMUSAN MASALAH
  2. Bagaimana karakteristik anak usia SD?
  3. Bagaimana tugas-tugas perkembangan anak usia SD dan implementasinya terhadap pendidikan?
  4. Bagaimana penyelenggaraan pendidikan bagi anak usia SD?
  1. C.    TUJUAN
    1. Mengetahui karakteristik anak usia SD
    2. Mengetahui tugas-tugas perkembangan anak usia SD beserta implementasinya terhadap pendidikan
    3. Mengetahui penyelenggaraan pendidikan bagi anak usia SD

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    KARAKTERISTIK ANAK USIA SEKOLAH DASAR (SD)

Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi.

Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) :

  1. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi.
  2. Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional.
  3. Adanya kecenderungan memuji diri sendiri.
  4. Membandingkan dirinya dengan anak yang lain.
  5. Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.
  6. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.

Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) :

  1. Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret.
  2. Sangat realistik, rasa ingin tahu dan ingin belajar.
  3. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus.
  4. Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya.
  5. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya.
  6. Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada), mereka membuat peraturan sendiri.

Setiap fase perkembangan anak menunjukkan karakteristik yang berbeda-beda. Demikian pula pada anak usia SD mempunyai karakteristik tersendiri. Menurut Sumantri dan Nana Syaodih (2006) karakteristik anak pada usia SD adalah:

  1. 1.                   Senang Bermain

Pada umumnya anak SD terutama kelas-kelas rendah itu senang bermain. Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih – lebih untuk kelas rendah. Guru SD seyogyanya merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya. Guru hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius tapi santai. Penyusunan jadwal pelajaran hendaknya diselang saling antara mata pelajaran serius seperti IPA, Matematika, dengan pelajaran yang mengandung unsur permainan seperti pendidikan jasmani, atau Seni Budaya dan Keterampilan (SBK).

  1. 2.                   Senang Bergerak

Karakteristik yang kedua adalah senang bergerak, orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan.

 

 

  1. 3.                   Senangnya Bekerja dalam Kelompok

Melalui pergaulannya dengan kelompok sebaya,anak dapat belajar aspek-aspek penting dalam proses sosialisasi seperti : belajar memenuhi aturan-aturan kelompok,belajar setia kawan,belajar tidak tergantung pada orang dewasa di sekelilingnya,mempelajari perilaku yang dapat diterima oleh lingkungannya,belajar menerima tanggung jawab, belajar bersaing secara sehat bersama teman-temannya, belajar bagaimana bekerja dalam kelompok,belajar keadilan dan demokrasi melalui kelompok. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Guru dapat meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil dengan anggota 3-4 orang untuk mempelajari atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok.

  1. 4.                   Senang Merasakan atau Melakukan Sesuatu Secara Langsung

Berdasarkan teori tentang psikologi perkembangan yang terkait dengan perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasi konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, anak belajar menghubungkan antara konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Pada masa ini anak belajar untuk membentuk konsep-konsep tentang angka,ruang,waktu,fungsi badan,peran jenis kelamin,moral. Pembelajaran di SD cepat dipahami anak, apabila anak dilibatkan langsung melakukan atau praktik apa yang diajarkan gurunya. Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah mata angin, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah angin, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari arah mana angin saat itu bertiup.

  1. B.     TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN ANAK USIA SD DAN IMPLEMENTASINYA TERHADAP PENDIDIKAN

Setiap individu mempunyai tugas-tugas perkembangan untuk memenuhinya. Demikian anak usia SD memerlukan kemampuan untuk memenuhi tugas-tugas perkembangannya.

Perincian tugas-tugas perkembangan anak SD menurut Havigusrt (1961) dan implikasinya terhadap pelaksanaan pendidikan adalah sebagai berikut:

  1. 1.         Pembelajaran keterampilan fisik motorik yang diperlukan untuk permainan sehari-hari

Dilihat dari perkembangan dan fisik motorik, anak SD dituntut untuk menguasi keterampilan fisik yang diperlukan dalam permainan  aktivitas fisik motorik.

Nabi Muhammad saw bersabda: ” ajarilah putra-putrimu berenang  memanjat” (HR At­-Tahatwi). Dalam hadis lain beliau juga bersabda ” mengajari anak-anakmu berenang dan memanah adalah kewajiban,” beliau lalu berkata” ajari anakmu memanah  latihlah berkuda sampai mereka lancar” (HR. Bukhari).

Menurut Hasan (2006), tujuan pengembangan dan fisik motorik adalah untuk melatih keterampilan fisik terutama melatih motorik kasar  motorik halus sehingga anak dapat meloncat, memanjat, dan lain sebagainya, disamping ia juga dapat bermain musik, menari bahkan dapat membuat kerajinan tangan. Perkembangan dan fisik motorik anak SD dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan yang sama pada anak laki-laki  perempuan, bahkan guru di tuntut untuk menciptkaan budaya lingkundan teman sebaya yang mengajarkan keterampilan fisik dengan cara mencoba membantu seseorang yang mengalami hambatan dalam tugas-tugas perkembangan ini.

Perkembangan fisik motorik ini ditandai hal-hal sebagai berikut:

  • Pertumbuhan anak pesat, lengan dan kaki panjang tungkai kurus, kemudian menjadi gemuk.
  • Gigi susu berganti gigi tetap.
  • Penuh energi, suka bergerak  aktif sekali, makin lama keaktifan lebih terarah
  • Masih senang berlari

Sementara itu, implikasi pada pekembangan ini adalah sebagai berikut :

  • Perlu makanan yang bergizi, cukup banyak istirahat, dan aktivitas  ramai berselang seling dengan activitas tenang.
  • Perlu melatih fisik anak, melalui permainan sepak bola atau permainan lain berenang, dsb.
  • Permainan dibutuhkan sebagai selingan belajar, bekerja, dan bermain kegaiatan-­kegiatan harus seimbang.

Para pendidik membutuhkan cara pengajaran yang lebih terbuka, lansung memberikan kesempatan anak berperan mengoptimalkan perkembangan fisik dan perceptual mereka. Dengan cara ini anak dapat lebih bersemangat dan timbul rasa senang dalam menjalani aktivitas pembelajaran. Sehingga berdampak positif juga bagi perkembangan mereka. Cara pembelajaran yang diharapakan dengan : program pengajaran yang fleksibel dan tidak kaku serta membedakan perbedaan individu, tidak monoton dan verbalistik yang di beri banyak variasi ( terdapat eksperimen, praktek, observasi,dll ), dan menggunakan berbagai media sehingga anak dapat berperan aktif secara mental dan perseptualnya. Di harapkan dengan cara ini anak dapat lebih berkembang, aktif dan membantu timbulnya suasana yang menyenangkan selama proses belajar. Karena anak lebih butuh banyak aktivitas yang membantu perkembangan mereka.

  1. 2.        Membangun keutuhan sikap terhadap diri sendiri sebagai organisme   yang sedang tumbuh.

Pada umumnya anak usia SD telah terjadi pertumbuhan fisik secara pesat. Untuk dapat melaksanakan tugas perkembangan ini kebiasaan kesehatan seperti menjaga kebersihan, waktu tidur, makan, dan lain sebagainya masih perlu dibatasi.

Memperhatikan hal-hal tersebut diatas, sekolah hendaknya memperhatikan kesulitan dan permasalahan siswa serta memberikan bimbingan dan konseling baik secara individual maupun kelompok. Hal ini bertujuan agar anak mencapai keutuhan dan keserasian sikap dirinya sendiri sebagai organisme yang sedang tumbuh secara optimal.

  1. 3.         Belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok sebaya

Anak pada usia SD mulai belajar tidak bergantung pada lingkungan keluarga. Anak (siswa) SD mulai untuk belajar memberi dan menerima dalam kehidupan sosial diantara teman sebaya. Proses pembelajaran dalam memasuki kelompok sebaya merupakan proses pembelajaran “kepribadian sosial” yang sesungguhnya.

Pemenuhan tugas perkembangan ini membawa implikasi terhadap penyelenggarakan pendidikan di SD. Sekolah merupakan tempat yang kondusif bagi kebanyakan siswa untuk belajar bergaul dan bekerja bersama teman sebaya. Guru harus terampil mempelajari dan memahami budaya teman pada lingkungan sekolah dan masyarakat.

  1. 4.         Mempelajari peran sosial sebagai pria dan wanita

Menurut Mulyani Sumantri dan Nana Syaodih (2006), dalam mencapai tugas perkembangan perbedaan anatomi antara pria dan wanita tidak menuntut perbedaan peran jenis kelamin selama anak Sekolah Dasar. Tubuh anak wanita sebagaimana anak laki-laki tumbuh dengan baik melalui aktivitas fisik sehingga menjadi kuat dan besar. Baru mulai usia 9 atau 10 tahun terdapat perbedaan anatomi antara anak laki-laki dengan anak wanita.

Berkenaan dengan peran anak sesuai dengan jenis kelaminnya,telah diawali dalam asuhan keluarga. Harapan yang sama berlanjut pada usia sekolah melalui pergaulan dalam budaya teman sebaya. Dalam hal ini sekolah hendaknya lebih menekankan pada fungsi perbaikan jika ada anak yang mengalami hambatan dalam pencapaian tugas perkembangan ini.

  1. 5.         Pengembangan keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung

Berdasarkan hasil studi psikologis menunjukkan, bahwa membaca dipelajari oleh kebanyakan masyarakat hingga usia 12 atau 13tahun. Kecepatan membaca dalam hati dan kemauan membaca bersuara jarang meningkat lagi setelah usia tersebut. Namun tentang kemampuan dalam mengambil makna isi bacaan terus bertambah selama ia belajar.

Keterampilan menulis sejalan dengan membaca, bahwa penguasaan menulis dipengaruhi oleh frekuensi anak melakukan/belajar menulis. Karena menulis memerlukan kebiasaan penggunaan aktivitas fisik/tangan. Pada anak usia SD sudah mencapai kematangan dalam hal aktivitas fisik/tangan. Keterampilan berhitung berkembang hingga usia 12 atau 13 tahun, dan jarang berkembang lagi jika tidak melanjutkan ke sekolah menengah atau perguruan tinggi memungkinkan anak SD memperoleh ilmu pengetahuan serta menggunakan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh untuk dihubungkan dengan lingkungan dan  masalah-masalah yang terjadi di sekitar anak.

Menurut Yusuf (2006), secara umum pada usia sekolah dasar (6-12) tahun, anak sudah dapat mereaksi rangsang dan inteklektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif seperti menulis, membaca,  menghitung. Pada tahap perkembangan kognitif ini, anak SD harus dibekali pengalaman-pengalaman kemampuan tertentu untuk menambah pengertian  menanamkan tingkah laku dengan pola-pola baru agar mereka dapat mempergunakannya secara efektif.

Implikasi perkembangan ini ditandai dengan tiga kemampuan atau kecakapan baru yaitu mengkalisifikasikan (mengelompokkan), menyusun, atau mengasosiasikan (menghubungkan atau menghitung) angka-angka atau bilangan, dan kegiatan yang berkaitan dengan perhitungan angka, seperti menambah, mengurangi, mengalikan,  membagi. Disamping itu, anak SD sudah memiliki kemampuan memecahkan masalah.

Pada tahap ini juga kemampuan intelektual anak cukup dapat dibekali kecapakan untuk berfikir  bernalar, termasuk pemberian pengetahuan tentang manusia, hewan, berserta lingkungan alam sekitar. Disamping itu, anak cukup mampu untuk mengungkapkan pendapat gagasan atau penilaian atas berbagai hal yang dialami di lingkungan dan sekitarnya.

Sekolah mempunyai peran yang sangat penting dalam pengembangan kemampuan intelektual anak. Dalam hal ini guru harus memberikan perhatian agar menunjang proses pendidikan anak. Guru juga harus memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan hasil belajarnya serta memberikan komentar terhadap pekerjaan yang telah dilakukan oleh anak SD dalam proses belajar. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat membentuk proses pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan oleh sekolah.

Hal tersebut dipertegas oleh Piaget bahwa kemampuan berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. ini berarti bahwa urutan bahan pendidikan dan metode harus menjadi perhatian utama. Anak SD akan sulit memahami bahan pelajaran jika urutan bahan pelajaran ini tidak teratur. Bagi anak SD, pengoperasian suatu penjumlahan harus menggunakan benda-benda nyata, terutama di kelas-kelas awal karena tahap perkembangan berfikir mereka baru mencapai pada tahap kongret.

  1. 6.         Pengembangan konsep-konsep yang perlu dalam kehidupan sehari-hari

Keterkaitan manusia dengan lingkungannya menjadikan ia harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut. Untuk dapat menyesuaikan diri maka ia perlu memahami dan mengembangkan konsep-konsep tertentu yang perlu dalam kehidupan sehari-hari. Tugas perkembangan ini menuntut anak usia SD untuk memperoleh sejumlah konsep yang diperlukan untuk bisa berfikir efektif berkenaan dengan pekerjaan, kewarganegaraan, dan peristiwa-peristiwa sosial.Secara psikologis pada saat anak siap memasuki sekolah, ia sebenarnya telah memiliki perbendaharaan banyak konsep, terutama konsep-konsep yang sederhana.

Berkenaan dengan tugas-tugas perkembangan tersebut, maka sekolah merupakan tempat yang kondusif untuk mempelajari sejumlah konsep dalam kehidupan. Kurikulum sekolah hendaknya memberikan pengalaman dan pembelajaran yang sekonkret mungkin terutama pada kelas-kelas bawah. Hal ini akan membantu anak dalam membangun konsep-konsep baru berdasar hal-hal yang nyata, misalnya tentang konsep yang berhubungan dengan waktu, ruang, tempat, dan angka.

  1. 7.         Pengembangan kata hati, moral dan nilai-nilai

Perkembangan moral adalah perkembangan moral anak yang merupakan hal yang sangat bagi perkembangan kepribadian dan sosial anak dalam kehidupannya sehari-hari. Anak usia SD sudah dituntut untuk mengembangkan kontrol moral dari dalam, menghargai aturan moral,dan memulai dengan skala nilai yang rasional. Melalui proses identifikasi terhadap kedua orang tuanya, anak mengembangkan sendiri penerapan “peringatan-hukuman” dari orang tua sebagai perwujudan kata hati. Piaget berpendapat, bahwa anak usia SD merupakan tahapan yang sangat penting dalam mempelajari moralitas kerja sama.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, mempunyai peranan penting dalam rangka pengembangan kata hati, moral dan nilai-nilai melalui proses pembelajaran. Bimbingan merupakan salah satu tehnik untuk membantu siswa utamanya yang mengalami hambatan atau permasalahan yang berkaitan dengan pengembangan ini.

Impliksi perkembangan terhadap penyelenggraaan pendidikan di SD guru mengarahkan anak didikanya untuk melakukan kebaikan dan selalu menanamkan kejujuran karena pada tahap perkembangan ini anak SD sudah mengetahui peraturan dan tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosial, disamping itu anak telah dapat mengasosiasikan perbuatannya dengan lingkungan di sekiranya. Misalnya perbuatan nakal, jujur, adil serta sikap hormat baik terhadap orang tua, guru dan lingkuangan sekitamya.

  1. 8.         Mancapai kemandirian pribadi

            Tugas-tugas perkembangan ini menuntut anak usia SD mampu menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Kemandirian ini ditunjukkan pada kemampuan membuat perencanaan dan melaksanakan kegiatan belajar/sekolahnya tanpa harus selalu diarahkan oleh guru maupun orang tua.

Sehubungan tugas pencapaian kemandirian ini, maka guru dalam melaksanakan proses pembelajarannya mengacu pada kemandirian. Baik kemandirian dalam tugas individual maupun kemandirian dalam tugas-tugas kelompok.

  1. C.           PENYELENGGGARAAN PENDIDIKAN BAGI ANAK USIA SD

Pendidikan pada jenjang Sekolah Dasar (SD) adalah pendidikan yang paling lama penyelenggaraannya (6 tahun) disbanding jenjang pendidikan yang lain. Diantara jenjang pendidikan,pendidikan SD  merupakan jenjang yang memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas SDM . Pada jenjang inilah kemempuan dan ketrampilan dasar dikembangkan,baik sebagai bekal untuk pendidikan lanjutan maupun terjun kemasyarakat untuk bersosialisasi.

Kebijakan Pemerintah RI tentang pedidikan Sekolah Dasar diatur pada beberapa peraturan perundang-undangan antara lain :

  1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor  47  tahun  2008 tentang ”Wajib Belajar”. Peraturan ini menyangkut beberapa hal,seperti : fungsi dan tujuan wajib belajar,penyelenggaraan wajib belajar,program wajib belajar,pengelolaan wajib belajar,evaluasi wajib belajar,penjaminan wajib belajar,hak dan kewajiban masyarakat,penagawasan wajib belajar.
  2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesianomor 17 Tahun 2010 Tentang “Pengelolaan Dan Penyelenggaraan Pendidikan”.
  3. Permendiknas Nomor  2 Tahun 2011 tentang Ujian Sekolah/Madrasah Dan Ujian Nasional Pada Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah Dan Sekolah Dasar Luar Biasa tahun Pelajaran 2010/2011
  4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2009 Tentang “Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional Pada Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah” . Peraturan ini menyangkut beberapa hal ,seperti : Tujuan penyelenggaraan SBI , Standar Penyelenggaraan SBI, Kurikulum,Proses Pembelajaran, Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Sarana Prasarana, Pengelolaan, Pembiayaan , Penilaian, Peserta Didik, Kultur Sekolah,Kewenangan Penyelenggaraan,PerizinanPenyelenggaraan,Pengendaliaan Penyelenggaraan,Pengendalian, Pengawasan,Sanksi, Peraturan Peralihan.
  5. Permen Diknas Nomor 24 Tahun 2007 tentang “Standar Sarana dan Prasarana”. Peraturan ini antara lain meliputi : Lahan(tanah),bangunan (gedung),ketentuan ruang kelas,ruang perpustakaan,laboraturium,ruang pimpinan/guru,tempat ibadah,UKS,Jamban,gudang,ruang sirkulasi,tempat bermain/olahraga.
  6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Tentang “Guru”. Peraturan ini antara lain meliputi : Kompetensi Dan Sertifikasi, Anggaran Peningkatan Kualifikasi Akademik dan Sertifikasi Pendidik Bagi Guru Dalam Jabatan ,Tunjangan Profesi,Penilaian, Penghargaan, dan Sanksi oleh Guru kepada Peserta Didik,Perlindungan dalam Melaksanakan tugas

dan Hak atas Kekayaan Intelektual, Akses Memanfaatkan Sarana dan Prasarana Pembelajaran,Pengembangan dan Peningkatan Kualifikasi Akademik,Kompetensi, dan Keprofesian Guru.

 

BAB III

ANALISIS

            Analisis menurut kelompok kami bahwa Anak usia SD masih suka bermain. Mereka tidak begitu suka pelajaran yang diberikan hanya melalui penjelasan atau model ceramah,karena hal itu terasa sangat monoton dan membosankan. Maka,guru harus lebih kreatif lagi dalam merancang model pembelajaran. Misalnya saja dengan sedikit permainan atau kuis dalam pembelajaran,dari sini anak juga dapat bergerak dan terlihat aktif . Anak tidak suka terlalu lama berdiam diri, duduk,dan mereka suka berpindah-pindah tempat.

Didalam pembelajaran,anak juga harus dapat bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Guru dapat membentuk kelompok belajar agar anak dapat belajar aspek-aspek penting dalam bersosialisasi melalui kelompok,serta menerima tanggung jawab. Selain itu,anak perlu dilibatkan langsung dalam proses belajar. Tidak hanya menjadi audiens saja,tetapi harus ada sautu kegiatan yang merangsang  psikologi perkembangan anak. Hal ini dapat di wujudkan dengan melakukan praktek dari materi yang telah disampaikkan gurunya .

Tugas perkembangan anak SD meliputi beberapa hal yaitu pembelajaran fisik dimana anak sangat aktif sekali melakukan kegiatan-kegiatan fisik yang memacu daya kerja otot dan tenaga untuk melakukan suatu aktivitas ,hal ini dilakukan untuk mengembangkan kreativitas yang anak miliki,karena basic anak pada usia SD sangat senang sekali bermain. Anak memiliki karakter untuk mencoba hal-hal baru dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Untuk membangun keutuhan sikap terhadap diri sendiri dalam hal ini selain peran serta dari pihak sekolah .peran orang tua juga ikut berpengaruh karena berkembangnya anak didik dimulai dari lingkungan keluarga,sehingga peran sekolah hanyalah sebagai jembatan untuk memberikan bimbingan dan memberikan teguran apabila siswa melakukan suatu pelanggaran. Setiap lingkungan dimana anak bersosialisasi maka akan berpengaruh juga terhadap pembentukan keutuhan anak segabai organisme yang tumbuh.

Anak didik bisa berkembang daya kreatifitasnya apabila mereka sering bergaul dan berkelompok dengan teman sebayanya,mereka dapat memahami mengerti satu sama lain sekaligus sebagai sarana untuk sosialisasi.Dalam bersosialisasi tidak membedakan jenis kelamin antara wanita dan pria. Mereka semua sama yang membedakan hanyalah pertumbuhan fisiknya.

Untuk meningkatkan prestasi dan intelektual anak ,anak didik berlatih untuk mengembangkan ketrampilan dasar membaca,menulis,dan berhitung dengan . Karena hal yang paling dasar tersebut akan mempengaruhi kinerja anak saat mendapatkan materi pembelajaran di sekolah.Seorang anak apabila salah satu dari ketrampilan dasar tidak terpenuhi maka proses pembelajaran akan terhambat.Saat anak memasuki bangku sekolah dasar mereka memperoleh konsep baru yang di dapat dari lingkungan. Sehingga anak merasakan pengetahuaanya bertambah. Dari konsep baru inilah anak mulai berkembang pola berfikirnya.Dalam pengembangan pola berfikir anak juga harus mengembangkan kata hati,moral,dan nilai-nilai. Nilai dan moral merupakan tolak ukur sang anak dalam berperilaku .  \Sekolah memiliki peran penting dalam hal memberikan bimbingan kepada anak didik untuk memperbaiki sikap dan perilaku yang baik dalam proses pembelajaran sehingga anak dapat mencapai suatu kemandirian. Selain dari guru dan anak didik,penyelenggaraan pendidikan harus disertai juga fasilitas,sarana prasarana ,standar penilaian yang sudah di atur dalam peraturan perundang-undangan dan permendiknas.

 

BAB IV

PENUTUP

Anak pada usia SD menunjukkan beberapa karakteristik yaitu,senang bermain,senang bergerak,senang bekerja dalam kelompok,senang melakukan sesuatu secara konkret.Kebanyakan anak lebih suka praktek dari pada diberikan teori. Pendidikan di SD pada dasarnya mendorong dan mengembangkan anak dalam merealisir tugas-tugas perkembangannya. Oleh sebab itu guru SD dituntut untuk mampu mengimplikasikannya tugas-tugas perkembangan ini dalam proses pembelajaran. Untuk melaksanakan penyelenggaraan pendidikan di SD mengacu pada Perundang-undangan dan peraturan pemerintah ,baik standar pengelolaannya,penilaiannya,sarana dan prasaranannya,UASBN,dan kualifikasi pendidik/guru.

 

DAFTAR PUSTAKA

Rubiyanto,Saring Marsudi,dan Sri Hartini.2008.Perkembanagan Peserta Didik.Surakarta:BP-FKIP UMS

Poerwanti, Endang, dan Nur Widodo. 2000. Perkembangan Peseserta Didik. Malang: UMM Press

Sofa.2008.”Karakteristik Anak Usia SD” (online),

http://www.ilmukami.co.cc/2011/01/karakteristik-anak-usia-sd.html,diakses tanggal 23 Maret 2011)

Rosyid.2009.”Karakteristik Anak Usia SD”(online),

(http://www.rosyid.info/2009/10/karakteristik-anak-usia-sd.html,diakses tanggal 23 Maret 2011)

Majalah Komunitas.2010.”Pedoman PSB untuk TK dan SD” (online),

Massofa.2008.”Karakteristik Anak Usia Sekolah Dasar” (online),

(http://massofa.wordpress.com/2008/01/25/karakteristik-anak-usia-sekolah-dasar/, diaksses tanggal 18 Maret 2011)

Dianzansori.2010.” http://dianzansori.wordpress.com/2010/05/02/24/”>Implikasi Perkembandan Anak Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan” (online).

(http://dianzansori.wordpress.com2010050224.htm, diakses tanggal 23 Maret 2011)

http://www.puskur.net/download/uu/90Permen_24_2007_Stdr-SarPras.pdf

Leave a comment »

Makalah Landasan Pendidikan

LANDASAN PENDIDIKAAN

 

 

BAB 1

SIFAT HAKEKAT MANUSIA

  1. A.    Pendahuluan

Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bertujuan agar peserta didik menumbuhkembangkan potensi manusia agar menjadi manusia dewasa, beradab dan normal. Potensi ini merupakan benih (bawaan) sejak dilahirkan. Seperti halnya benih padi yang ditanam  dengan baik sudah pasti akan tumbuh menjadi tanaman padi, bukanya tumbuh menjadi tanaman jagung. Di dalam Al Qur’an diterangkan bahwa potensi itu terdiri dari fujur (nafsu) dan taqwa (Q.S. 61:8).

  1. B.     Dimensi Hakekat Manusia

Disebut sifat hakekat manusia karena secara hakiki sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia. Adapun sifat hakekat tersebut adalah:

  1. Makhluk Monodualis, artinya manusia itu satu akan tetapi terdiri dari 2 unsur yaitu jasmani dan rohani.
  2. Makhluk individu dan sosial.
  3. Makhluk religius atau makhluk ber_Tuhan yang harus taat, tunduk dan patuh kepada Allah.
  4. Makhluk paedagogik atau makhluk yang terdidik dan bias dididik.
  5. Makhluk Homo Faber atau makhluk yang mampu mengembangkan dirinya.
  6. Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan.
  7. Memiliki sifat rasional dan bertanggungjawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
  8. Memiliki proses berkembang selama hidup.
  9. Selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan keinginannya.
  10. Memiliki potensi yang tak terduga dengan potensi yang tak terbatas.
  11. Makhluk Allah yang mengandung kemungkinan jahat dan baik, dan
  12. Makhluk yang dipengaruhi lingkungan sosial.
  1. C.    Hakekat  Manusia dalam Pandangan Islam

Manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Selain itu manusia sudah dilengkapi dengan berbagai potensi yang dapat dikembangkan .

Dalam Al Qur’an, manusia disebut dengan berbagai nama, antara lain:

  1. Al Basyr artinya manusia terdiri dari materi sehingga menampilkan sosok dalam bentuk fisik (berupa tubuh).
  2. Al Insan artinya potensi yang dianugrahkan oleh Allah SWT kepada manusia.
  3. An Naas artinya fungsi manusia sebagai makhluk sosial.
  4. Abdullah artinya makhluk yang memiliki potensi berperasaan berkehendak, dan
  5. Khalifah Allah artinya manusia dilengkapi berbagai potensi antara lain bekal pengetahun untuk melaksanakan tugas kekhalifahan.
  1. D.    Implikasi dalam Pendidikan

Dari uraian tersebut maka dapat diambil beberapa implikasi antara lain sebagai berikut:

  1. Anak memerlukan perlindungan an perawatan.
  2. Kemampuan pendidikan terbatas.
  3. Diperlukan transmisi budaya.
  4. Diperlukan internalisasi budaya.
  5. Anak dapat menerima bantuan yang tertuju pada saat belajar, dan
  6. Setiap individu adalah unik (mempunyai kelebihan).

HAKEKAT PENDIDIK

  1. A.    Pengertian

Pendidik dalam arti sederhana adalah semua orang yang dapat membantu perkembangan kepribadian seseorang dan mengarahkannya pada tujuan pendidikan. Sedang menurut UU RI No. 2 Th. 1989 Sisdiknas, pendidik adalah anggota masyarakat yang bertugas membimbing , mengajar dan melatih peserta didik.

Orang tua menjadi pendidik terhadap anak-anaknya. Fungsinya adalah melindungi, mengasuh, mengasah dan mengasihi.

Pemimpin masyarakat berfungsi sebagai pendidik, member pengaruh yang baik, sehingga mereka akan memperoleh pengikut yang menerima pengaruh tersebut.

Guru menjadi pendidik dengan fungsi utama mengajar dan mencerdaskan peserta didik. Serta ikut bertanggungjawab terhadap nilai-nilai ethis dari ilmu-ilmu yang diajarkan, nilai-nilai budi pekerti dan kepribadian yang manusiawi.

  1. B.     Kepribadian Guru

Menekuni bidang profesi guru berarti seseorang harus menyadari bahwa tugas utamanya disamping mengajar juga mendidik.

Agar guru memiliki kepribadian yang disegani oleh orang lain (berwibawa), maka paling tidak harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Taqwa kepada Allah.
  2. Memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang baik.
  3. Memiliki kemampuan dan ketrampilan teknik.
  4. Mampu memelihara dan mengembangkan kode etik guru, dan
  5. Melaksanakan tugas secara ikhlas.
  1. C.    Tugas Pendidik (Guru)

Proses pendidikan berlangsung dalam pergaulan yang bersifat mendidik. Menurut Muri Yusuf (1996) guru sebagai pendidik memiliki tugas antara lain sebagai berikut:

  1. Mendorong dinamika dalam pergaulan kearah yang lebih positif dan terpadu.
  2. Mengorganisir pergaulan dengan baik yang memungkinkan komunikasi timbal balik antara pendidik (guru) dengan anak didik.
  3. Mengenal anak didik secara lebih baik.
  4. Mengadakan evaluasi secara berkesinambungan terhadap perkembangan anak didik.
  5. Membatasi perkembangan buruk pada diri anak dan menyalurkan kearah yang positif.
  6. Membantu anak didik dalam situasi pergaulan yang bersifat mendidik, dan
  7. Mengajak anak bertanggungjawab dan menyuruhnya berperan aktif dalam situasi pergaulan yang bersifat mendidik.
  1. D.    Arti dan Fungsi Guru Muhammadiyah

1. Pengertian

Guru Muhammadiyah adalah seorang guru yang   mengajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah, maupun yang diangkat langsung oleh Persyarikatan Muhammadiyah.

Seorang guru Muhammadiyah pada hakekatnya tidak dapat melepaskan dirinya dari status:

  1. Sebagai makhluk Allah dan sebagai manusia muslim.
  2. Sebagai warga Negara RI yang memiliki tanggung jawab penuh untuk menunaikan prinsip-prinsip GBHN dalam nmenjalankan tugas profesinya.
  3. Sebagai pegawai persyarikatan yang mengangkatnya, ia bertanggung jawab atas prinsip sumpah janji jabatannya, dan
  4. Sebagai guru suatu mata pelajaran yang dipercayakan kepadanya, memiliki fungsi sebagai penanggung jawab kurikulum.

2. Fungsi Guru Muhammadiyah

Adapun fungsi guru Muhammadiyah adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai pengemban amanat Khalifah.
  2. Sebagai pengemban amanat risalah Islamiyah, dan
  3. Sebagai pembina Akhlaq.
  1. E.     Sikap Mental Guru Muhammadiyah

Guru Muhammadiyah dalam menjalankan tugasnya sewajarnyalah melandaskan sikap mentalnya atas prinsip-prinsip yang diisyaratkan dalam surat Al Bayyinah, ayat 5, yang artinya: ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan menuaikan ketaatannya kepada-Nya dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, dan demikian itulah agama yang lurus.”

Dengan demikian, seorang guru Muhammadiyah harus memiliki sifat mental:

  1. Siap menjalankan perintah Allah.
  2. Mempunyai jiwa pengabdian.
  3. Ikhlas dalam beramal.
  4. Memusatkan segala sesuatunya hanya kepada Allah.
  5. Melaksanakan shalat, dan
  6. Mempunyai keyakinan akan kebenaran agama Islam.

Disamping hal tersebut guru Muhammadiyah hendaknya berusaha meniru Rosullah sebagai sosok pendidik yang memiliki sifat:

  1. Rohmah.
  2. Sabar.
  3. Rendah hati.
  4. Lemah lembut.
  5. Pemberi maaf.
  6. Berkepribadian yang kuat, dan
  7. Khotimah.

BAB III

HAKEKAT PESERTA DIDIK

  1. A.    Pendahuluan

Dalam pandangan konvensional peserta didik diperlakukan sebagai objek didik karena hakekat peserta didik dipandang sebagai wadah yang harus diisi dengan pengetahuan dan ketrampilan. Oleh karena itu, pendasaran pengetahuan hakekat peserta didik menjadi sangat penting agar dapat diperoleh pemaknaan akan hakekat peserta didik dalam proporsinya. Berikut ini akan diuraikan berbagai pandangan tentang manusia sebagai subjek didik maupun objek didik.

  1. Dimensi Antropologi

Antropologi adalah ilmu yang mengkaji tentang asal usul, perkembangan serta karakter spesies manusia. Hakekat peserta didik dipandang sebagai homo sapiens yaitu makhluk hidup yang telah mencapai evolusi paling puncak.Dalam klasifikasi ini Mudyahardjo (2000:20-26) menerangkan peserta didik mempunyai ciri khas sebagaimana ciri manusia pada umumnya, yaitu:

  1. Berjalan tegak.
  2. Mempunyai otak besar dan kompleks.
  3. Hewan yang tergeneralisasi, dapat hidup dalam bebagai lingkungan, dan
  4. Periode kehamilan yang panjang dan lahir tidak berdaya.

Imran Manan (1989:12-13) menjelaskan bahwa dari dimensi Antropologi terdapat tiga prinsip tentang peserta didik yaitu:

Pertama, peserta didik dan manusia adalah makhluk sosial yang hidup bersama-sama dan saling mempengaruhi, sehingga peserta didik merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk mengisi dan melengkapi ketidaklengkapannya.

Kedua, peserta didik dipandang sebagai individualitas yaitu menampilkan sifat-sifat karakteristik yang khas dan memiliki struktur kepribadian yang berbeda dengan individu lainnya.

Ketiga, peserta didik harus dipandang mempunyai  moralitas. Karena peserta didik sesungguhnya adalah makhluk yang bermoral sehingga identitas moral sesungguhnya telah dimiliki sejak lahir.

  1. Dimensi Psikologi

Dalam perspektif psikologi ini, peserta didik dipandang sebagai individu yang mampu belajar, sebab memiliki karakteristik:

  1. Unik.
  2. Sebagai sebuah organism total.
  3. Mempunyai kesiapan bertindak.
  4. Mempunyai tugas-tugas perkembangan.
  5. Mempunyai berbagai kebutuhan.
  6. Mempunyai kecenderungan-kecenderungan umum dalam bertindak.
  7. Mempunyai tujuan khusus, dan
  8. Mempunyai motivator untuk dirinya sendiri.

Dalam pandangan modern peserta didik dipandang sebagai subjek didik sebab diakui eksistensinya sebagai pribadi yang otonom. Dalam hal ini ciri khas peserta didik diakui memiliki:

  1. Potensi fisik dan psikis yang khas sehingga merupakan individu yang unik.
  2. Potensi sebagai individu yang berkembang,
  3. Kebutuhan untuk dididik secara individual dan perlakuan yang manusiawi, dan
  4. Kemampuan untuk mandiri dan otonom.

Dalam sorotan lain tentang hakekat peserta didik, terdapat empat ciri alami yang diberikan pendidikan adalah sebagai berikut:

  1. Adanya sifat alami untuk tergantung dengan lingkungan sosial dan manusia lainnya.
  2. Peserta didik pada hakekatnya memiliki dorongan hidup dan mempertahankan eksistensinya.
  3. Pesrta didik sesungguhnya terdiri dari jasmani dan rohani, dan
  4. Individu yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang serta berubah secara fisik dan psikis.
  1. B.     Hakekat Peserta Didik sebagai Animal Educandum

Dalam dimensi antropologis, manusia dikategorikan sebagai primata, namun dalam realitanya manusia mampu untuk dididik sehingga dinamakan sebagai animal educandum. Pembuktian bahwa hakekat peserta didik adalah animal educandum ini diperkuat lagi dengan argumentasiyang berdimensi socio antropologis yang menegaskan bahwa setiap anggota masyarakatnya harus menguasai budaya masyarakat lingkungannya sehingga didalamnya harus menitinya dengan belajar agar menjadi warga masyarakat yang beradab.

Implikasi argumentasi socio antropologis ini menuntut bahwa animal berupa anak manusia memerlukan instrumen tranformasi dari organism biologis menuju kepada status organisme budaya serta didalamnya terjadi proses internalisasi budaya.

BAB IV

HAKEKAT PENDIDIKAN

  1. A.    Latar Belakang

Terminologi pendidikan merupakan terjemahan  dari istilah Pedagogi. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani Kuno Paidos dan Agoo. Paidos artinya budak dan ago artinya membimbing.       Akhirnya, pedagogie diartikan sebagai budak yang mengantarkan anak majikan untuk belajar. Dalam perkembangannya, pedagogie dimaksudkan sebagai ilmu mendidik. Hakekat pendidikan dibedakan menjadi 2 klasifikasi besar, yaitu:

  1. Pendekatan Reduksionisme

Tilaar (1999:19-32) mengelompokkan pendekatan ini meliputi enam teori, yaitu:

  1. Pendekatan Pedagogisme
  2. Pendekatan Filosofis
  3. Pendekatan Religius
  4. Pendekatan Psikologis
  5. Pendekatan Negativis
  6. Pendekatan Sosiologis
  7. Pendekatan Holistik
  8. B.     Karakteristik Pendidikan sebagai Pembelajaran

Ada beberapa syarat sesuatu kegiatan dinamakan pembelajaran, yaitu:

  1. Kegiatan harus dilakukan dengan sengaja dan terencana.
  2. Dilakukan oleh pihak yang memiliki kualifikasi dan profesionalisme yang diakui.
  3. Adanya interaksi edukasional.
  4. Kegiatan dilandasi metodologi pembelajaran.
  5.  Mempunyai tujuan instruksional .
  6. Verifikasi baik dalam proses maupun akhir kegiatan, dan
  7. Terdapat program yang direncanakan.
  1. C.    Karakteristik Pendidikan Indonesia

Pendidikan nasional Indonesia mempunyai ciri khas sebagai berikut:

  1. Berlandaskan nasionalisme kerakyatan anti penjajah.
  2. Berakar dari kebudayaan bangsa.
  3. Berakar dari kebinekaan.
  4. Mengembangkan kemampuan bangsa.
  5. Mengembangkan manusia seutuhnya, dan
  6. Menganut pendidikan seumur hidup.
  7. D.    Hakekat Pendidikan dalam Perspektif  Fungsi

Hakekat pendidikan dapat ditinjau dari aspek kegiatan interaksinya dan dalam tinjauan tujuan yang hendak dicapai, yaitu meliputi:

  1. Pendidikan sebagai fungsi transformasi budaya
  2. Pendidikan sebagai fungsi pembentukan pribadi
  3. Pendidikan sebagai fungsi penyiapan warga negara, dan
  4. Pendidikan sebagai fungsi penyiapan tenaga kerja.

BAB V

VISI DAN MISI PENDIDIKAN

  1. A.    Visi Pendidikan Nasional

Visi pendidikan nasional dimunculkan sebagai perekat ketika pengembangan pendidikan nasional dikembangkan. Disamping itu visi penting untuk memperkuat komitmen bangsa Indonesia dalam membangun pendidikan. Adapun visi pendidikan nasional adalah sebagai berikut: “Terwujudnya system pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwiba dan memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia berkualitas sehingga mampu dan mau menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.”

Visi tersebut diharapkan bermanfaat bagi penyelenggaraan pendidikan nasional sehingga diharapkan:

  1. Dapat membangun komitmen dan menggerakkan segenap komponen bangsa untuk menjadikan pendidikan sebagai salah satu pranata sosial yang kuat dan berwibawa serta memberdayakan warga Negara Indonesia.
  2. Dapat menciptakan masukan pendidikan bagi kehidupan bangsa dan dapat menjadi sarana untuk menjembatani keadaan sekarang dan masa akan dating, dan
  3. Dapat mendorong bangsa untuk mampu melakukan pembudayaan dan pemberdayaan system, iklim dan proses pendidikan yang demokratis dan mengutamakan mutu dalam lingkup nasional internasional.

Visi pendidikan nasional Indonesia dirumuskan berdasarkan keyakinan bahwa pendidikan merupakan prinsip pemberdayaan peserta didik sebagai subjek pendidikan serta seluruh pranata sosial yang ada dapat dijadikan sarana pencerahan sekaligus memberdayakan bagi kelangsungan hidup individu dan dapat untuk menjawab tantangan pembangunan.

  1. B.     Misi pendidikan Nasional

Misi merupakan penjabaran lebih lanjut dari visi pendidikan dalam dimensi lebih operasional fungsional. Atas dasar visi diatas maka misi pendidikan nasional Indonesia adalah:

  1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia.
  2. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar.
  3. Meningkatkan kesiapan input dan kualitas proses pendidikan untuk menuju pembentukan kepribadian yang bermoral agama, penguasaan ilmu pembentukan ketrampilan hidup.
  4. Meningkatkan profesionalitas dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai lembaga pembudayaan ilmu pengetahuan, ketrampilan, pengalaman, sikap dan dikembangkan berdasarkan standar nasional dan global, dan
  5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi daerah dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.

BAB VI

LANDASAN PENDIDIKAN NASIONAL

  1. A.    Pendahuluan

Pendidikan nasional sebagai wahana dan sarana pembangunan negara dan bangsa dituntut mampu mengantisipasi proyeksi kebutuhan masa depan. Tuntutan tersebut sangat bergayut dengan aspek-aspek penataan pendidikan nasional yang bertumpu pada basis kehidupan masyarakat Indonesia secara komprehensif

  1. B.     Macam-Macam Landasan
    1. Landasan filosofis

Dau pandangan yang dipertimbangkan dalam menentukan landasan filosofis dalam pendidikan nasional Indonesia.

Pertama, adalah pandangan tentang manusia Indonesia. Filosofis pendidikan nasional memandang manusia Indonesia sebagai:

  1. Makhluk Tuhan Yang Maha Esa dengan segala fitrahnya.
  2. Sebagai makhluk individu dengan segala hal dan kewajibannya, dan
  3. Sebagai makhluk sosial dengan segala tanggung jawaban hidup dalam masyarakat yang pluralistik baik dari segi lingkungan sosial budaya, lingkungan hidupdan segi kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah-tengah masyarakat global yang senantiasa berkembang dengan segala tantangannya.

Kedua, pandangan tentang pendidikan nasional itu sendiri. Dalam pandangan filosofis pendidikan nasional dipandang sebagai pranata sosial yang selalu berinteraksi dengan kelembagaan sosial lain dalam masyarakat.

Dengan adanya dua pandangan tentang pendidikan nasional ini menjadikan tugas penyelenggaraan pendidikan menjadi urusan dan kewajiban semua pihak sehingga pendidikan dibangun dengan komitmen yang kuat oleh semua unsur  bangsa serta berkontribusi dengan perkembangan pranata lainnya.

Dalam bab ini, landasan filosofis pendidikan nasional memberikan penegasan bahwa penyelenggaraan pendidikan nasional di Indonesia hendaknya mengimplementasikan kearah:

  1. Sistem pendidikan nasional Indonesia yang bertumpu pada norma persatuan bangsa dari segi sosial, budaya, ekonomi dan memelihara keutuhan bangsa dan negara.
  2. Sistem pendidikan nasional Indonesia yang proses pendidikannya memberdayakan semua institusi pendidikan agar individu dapat menghargai perbedaan individu lain, suku, ras, agama, status sosial ekonomi, dan golongan sebagai manifestasi rasa cinta tanah air.
  3. Sistem pendidikan nasional Indonesia yang bertumpu pada norma kerakyatan dan demokrasi.
  4. Sistem pendidikan nasional Indonesia yang bertumpu pada norma keadilan sosial untuk seluruh warga negara Indonesia, dan
  5. Sistem pendidikan nasional yang mampu menjamin terwujudnya manusia seutuhnya yang beriman dan bertaqwa, menjunjung tinggi hak asasi manusia, demokratis, cinta tanah air dan memiliki tanggung jawab sosial yang berkeadilan.
  6. Landasan Sosiologis

Pendidikan nasional yang berlandaskan sosiologis dalam penyelenggaraannya harus memperhatikan aspek yang berhubungan dengan sosial baik problemnya maupun demografis.

  1. Landasan Yuridis

Sebagai penyelenggaraan pendidikan nasional yang utama, perlu pelaksanaannya berdasar pada perundangan sehingga bangunan pendidikan nasional sah menurut Undang-Undang. Hal ini sangat penting karena hakekatnya pendidikan nasional adalah perwujudan dari kehendak UUD 1945 pasal 31.

                             DAFTAR PUSTAKA

Jumali, dkk. 2008. Landasan Pendidikan. Surakarta:  Muhammadiyah University        Press

Fasli Jalal dan Dedi Supriadi, 2001. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi daerah, Yogyakarta: Adicitra Karya Nusa

http://www.slideshare.net/VanadiumDesesa/landasan-pendidikan

Leave a comment »

Makalah Kewarganegaraan

PENGANTAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

DI PERGURUAN TINGGI
 

  1. PENDAHULUAN

Pendidkan pada hakekatnya adalah usaha sadar dan berencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,pengendalian diri,kepribadian,kecerdasan,akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya saat hidup dikalangan masyarakat luas. Pembekalan pendidikan kepada peserta didik di ndonesia dengan pemupukan nilai-nilai sikap dan kepribadian sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung didalam sila-sila Pancasila,yang bertujuan untuk menumbuhkan cinta tanah air,dengan berwawasan kebangsaan yang luas.

Masyarakat dan pemerintah berupaya untuk meningkatkan kualitas hidup terutama kepada generasi muda penerus bangsa untuk hidup lebih berguna dan bermakna serta mampu mengantisipasi perkembangan dan perubahan masa depannya . Hal ini sangat memerlukan pembekalan ilmu pengetahuan ,teknologi dan seni yang berlandaskan nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila pancasila dan nilai budaya bangsa. Oleh karena itu untuk mempelajari nilai-nilai dasar Negara sebagai dasar dari nilai-nilai yang terkandung dalam sila Pancasila seharusnya secara sadar setriap insane manusia memiliki motivasi bahwa pendidikan kewarganegaraan yang diberikan kepada mereka sebagai indivudu ,anggota keluarga,anggota masyarakat,dan sebagai warga Negara yang terdidik serta tekad untuk mewujudkannya.

Pendidikan kewarganegaraan yang diberikan tidak hanya teori saja melainkan harus memberikan sentuhan moral dan bersikap social. Sentuhan moral dan social akan mendapat perhatian besar agar pengajaran pendidikan kewarganegaraan mampu menuju sasaran tujuan yaitu membentuk pola generasi muda yang baik dan bertanggung jawab,melahirkan generasi muda yang memiliki rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi.

  1. LATAR BELAKANG LAHIRNYA MATA KULIAH PKN

Perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia yang dimulai sejak era sebelum dan selama penjajahan. Kemudian dilanjutkan dengan era perebutan  dan mempertahankan kemerdekaan sampai era pengisian kemerdekaan yang menimbulkan kondisi dan tuntutan yang berbeda sesuai dengan zamannya. Semangat perjuangan bangsa yang tak kenal menyerah telah terbukti pada Perang Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Semangat perjuangan bangsa tersebut dilandasi oleh keimanan serta ketakwaan kepada Tuhan YME dan keikhlasan untuk berkorban. Landasan perjuangan tersebut merupakan nilai-nilai perjuangan Bangsa Indonesia. Nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia dalam perjuangan fisik merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan telah mengalami pasang surut sesuai dengan dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semangat perjuangan bangsa telah mengalami penurunan pada titik yang kritis. Hal ini disebabkan antara lain oleh pengaruh globalisasi.

Dalam menghadapi globalisasi dan menatap masa depan untuk mengisi kemerdekaan, kita memerlukan perjuangan non-fisik sesuai dengan bidang profesi masing-masing. Perjuangan non-fisik sesuai bidang profesi masing-masing tersebut memerlukan saran kegiatan pendidikan bagi warga negara Indonesia pada umumnya dan mahasiswa sebagai calon cendikiawan pada khususnya yaitu melalui Pendidikan Kewarganegaraan.

  1. SEJARAH MATA KULIAH PKN DI INDONESIA

Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan atau disingkat dengan PKn atau dengan istilah yang lainnya (CIVICS) mulai diperkenalkan di negara Amerika Serikat pada tahun 1790 dalam rangka “mengamerikakan bangsa Amerika” atau yang terkenal dengan “Theory of Americanization”.Kita ketahuai bangsa Amerika berasal dari bebagai bangsa di dunia yang datang sebagai imigran dengan latar belakang budaya yang berlainan. Untuk menyatukan mereka ini menjadi satu bangsa dan menjadi warganegara Amerika sangat diperlukan pelajaran kewarganegaraan (Civics). Pelajaran Civics yang diberikan pada waku itu adalah tentang, pemerintahan, hak dan kewajiban warganegara, dan civics merupakan bagian dari Ilmu Politik.

Di Indonesia pelajaran Civics telah dikenal sejak jaman Hindia Belanda dengan nama “Burgerkunde”. Pada zaman ini ada dua buku yang digunakan sebagai sumber pelajaran, yaitu : Indische Burgerschapokunde dan Recht en Plicht (Indische Burgerschapkunde voor iedereen). Pada tahun 1950 dalam suasana Indonesia telah merdeka kedua buku ini menjadi pegangan guru Civics di Sekolah Menengah Atas.

Perjalanan mata pelajaran Civics setelah Indonesia merdeka mengalami beberapa kali perubahan istilah yang digunakan. Perubahan-perubahan tersebut sangat berkaitan dengan kebijaksanaan pemerintah pada waktu itu dan kurikulum sekolah dasar dan menengah yang digunakan. Pada kurikulum 1957 istilah yang digunakan yaitu Pendidikan Kewarganegaraan. Kemudian pada kurikuluk 1961 berubah menjadi CIVICS lagi, kemudian pada kurikulum 1968 menjadi Pendidikan Kewargaan Negara (PKN). Selanjutnya kurikulum 1975 menjadi PMP. Pada kuriukulim 1994 berubah lagi menjadi PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan).

Perjalanan perubahan istilah  matakuliah pendidikan kewarganegaraan di perguruaan tinggi :

  1. Pendidikan Kewiraan

Pendidikan Kewiraan dimulai tahun 1973/1974, sebagai bagian dari kurikulum pendidikan nasional, dengan tujuan untuk menumbuhkan kecintaan pada tanah air dalam bentuk PPBN yang dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap awal yang diberikan kepada peserta didik SD sampai sekolah menengah dan pendidikan luar sekolah dalam bentuk pendidikan kepramukaan, sedangkan PPBN tahap lanjut diberikan di PT dalam bentuk pendidikan kewiraan.

  1. Perkembangan kurikulum dan materi Pendidikan Kewarganegaraan
    1. Pada awal penyelenggaraan pendidikan kewiraan sebagai cikal bakal dari PKn berdasarkan SK bersama Mendikbud dan Menhankam tahun 1973, merupakan realisasi pembelaan negara melalui jalur pengajaran khusus di PT, di dalam SK itu dipolakan penyelenggaraan Pendidikan Kewiraan dan Pendidikan Perwira Cadangan di PT.
    2. Berdasarkan UU No. 20 tahun 1982 tentang Pokok-pokok Penyelenggaraan Pertahanan dan Keamanan Negara ditentukan bahwa:

1)      Pendidikan Kewiraan adalah PPBN tahap lanjutan pada tingkat PT, merupakan bagian tidak terpisahkan dari Penyelenggaraan Sistem Pendidikan Nasional

2)        Wajib diikuti seluruh mahasiswa (setiap warga negara).

  1. c.  Berdasarkan UU No. 2 tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional dinyatakan  bahwa:

1)        Pendidikan Kewiraan bagi PT adalah bagian dari Pendidikan Kewarganegaraan

2)        Termasuk isi kurikulum pada setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan

  1. d.  SK Dirjen Dikti tahun 1993 menentukan bahwa Pendidikan Kewiraan termasuk dalam kurikulum MKDU bersama-sama dengan Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, ISD, IAD, dan IBD sifatnya wajib.
  2. e.   Kep. Mendikbud tahun 1994, menentukan:

1) Pendidikan Kewarganegaraan merupakan MKU bersama-sama dengan Pendidikan Agama, dan Pendidikan Pancasila

2) Merupakan kurikulum nasional wajib diikuti seluruh mahasiswa
f. Kep. Dirjen Dikti No. 19/Dikti/1997 menentukan antara lain:

1)      Pendidikan Kewiraan termasuk dalam muatan PKn, merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dari kelompok MKU dalam susunan kurikulum inti

2)      Pendidikan Kewiraan adalah mata kuliah wajib untuk ditempuh setiap mahasiswa pada PT
g. Kep. Dirjen Dikti No. 151/Dikti/Kep/2000 tanggal 15 Mei 2000 tentang      Penyempurnaan Kurikulum Inti MPK, menentukan:

1)      Pendidikan Kewiraan termasuk dalam muatan PKn, merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dari kelompok MPK dalam susunan kurikulum inti PT di Indonesia

2)       Pendidikan Kewiraan adalah mata kuliah wajib untuk ditempuh setiap mahasiswa pada PT untuk program diploma III, dan strata 1.

h. Kep. Dirjen Dikti No. 267/Dikti/kep/2000 tanggal 10 Agustus, menentukan antara lain:

1)        Mata Kuliah PKn serta PPBN merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dari MPK

2)        MPK termasuk dalam susunan kurikulum inti PT di Indonesia

3)         Mata Kuliah PKn adalah MK wajib untuk diikuti oleh setiap mahasiswa pada PT untuk program Diploma/Politeknik, dan Program Sarjana.

i. Kep. Mendiknas No. 232/UU/2000 tanggal 20 Desember 2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Belajar Mahasiswa menentukan antara lain:

1) Kurikulum inti Program sarjana dan Program diploma, terdiri atas:
a) Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK)

b) Kelompok Mata kUliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK)

c) Kelompok Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB)

d) Kelompok Mata Kuliah Perilaku Berkarya (MPB)

e) Kelompok Mata Kuliah Kehidupan Bermasyarakat (MKB)

2) MPK adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangkan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap, dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

3) Kurikulum inti merupakan kelompok bahan kajian dan pelajaran yang harus dicakup dalam suatu program studi yang dirumuskan dalam kurikulum yang berlaku secara nasional

4) MPK pada kurikulum inti yang wajib diberikan dalam kurikulum setiap program studi/kelompok program studi terdiri dari bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan Pendidikan Kewarganegaraan.

5) MPK untuk PT berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terdiri dari Pendidikan Bahasa, Pendidikan Agama, dan Pendidikan Kewarganegaraan.

http://www.sejarahpkn/pengertian,tujuan,sejarah pendidikan kewarganegaraan « raharjo online.html

  1. LANDASAN PENDIDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Menurut Bakry (2008:3) , pendidikan kewarganegaraan bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara serta berjiwa demokratis yang berkeadaban. Dengan tujuan demikian ini,pendidikan kewarganegaraan banyak dasarnya ada yang berdasarkan filsafati ,berdasarkan sejarah ,berdasarkan sosial budaya. Adapun yang dibicarakan disini tentang landasan pendidikan kewarganegaraan :

1. Landasan ilmiah

a.  Dasar Pemikiran Pendidikan Kewarganegaraan

Setiap warga negara dituntut untuk hidup berguna (berkaitan dengan kemampuan kognitif dan psikomotorik) bagi negara dan bangsanya, serta mampu mengantisipasi masa depan mereka yang senantiasa berubah dan selalu terkait dengan kontkes dinamika budaya, bangsa, negara dan hubungan internasional. Pendidikan Tinggi tidak dapat mengabaikan realitas global tersebut yang digambarkan sebagai kehidupan yang  penuh  paradoks dan ketakterdugaan itu. Untuk itu kepada setiap warga negara diperlukan adanya pembekalan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni (ipteks) yang berlandaskan nilai-nilai budaya  bangsa. Nilai-nilai  budaya bangsa tersebut berperan sebagai panduan dan pegangan hidup bagi setiap warga negara. Pokok bahasan Pendidikan Kewarganegaraan meliputi hubungan antara warga  negara serta pendidikan pendahuluan bela negara, yang semua itu berpijak pada budaya bangsa. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa tujuan utama dari pendidikan kewarganegaraan adalah untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara serta membentuk sikap dan perilaku yang cinta tanah air yang bersendikan kebudayaan bangsa, wawasan nusantara, serta ketahanan nasional dalam diri para mahasiswa yang calon sarjana/ilmuan warga negara kesatuan republik indonesia yang sedang mengkaji dan akan menguasai IPTEK dan seni. Sebab kualitas warga negara yang baik adalah sangat ditentukan terutama oleh keyakinan dan sikap hidupnya dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara disamping derajat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipelajarinya.

  1. Objek Pembahasan Pendidikan Kewarganegaraan

Setiap ilmu harus memenuhi syarat-syarat ilmiah, yaitu berobjek, mempunyai metode, sistematis dan bersifat universal. Objek pengetahuan ilmu yang ilmiah itu harus jelas baik material maupun formalnya. Objek material adalah bidang sasaran yang  dibahas dan dikaji oleh suatu bidang atau cabang ilmu. Sedang objek formal sudut pandang tertentu yang dipilih atau yang dijadikan ciri untuk membahas objek material tersebut.

Objek material dari  Pendidikan Kewarganegaraan adalah segala hal yang  berkaitan dengan warga negara baik yang empirik maupun yang non empirik, yang  berupa wawasan, sikap dan perilaku warga negara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedang objek formalnya adalah mencakup dua segi, yaitu:

  1. Segi hubungan antara warga negara dengan negara (termasuk hubungan antara warga negara).
  1. Segi pembelaan negara.

Objek pembahasan Pendidikan Kewarganegaraan menurut Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi No.267/Dikti/Kep/2000, pokok-pokoknya adalah sebagai berikut:

1.   Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan, mencakup:

  1. Hak dan kewajiban warga Negara.
  2. Pendidikan Pendahuluan Bela Negara.
  3. Demokrasi  Indonesia.
  4. Hak asasi manusia.
  5. Wawasan nusantara.
  6. Ketahanan nasional.
  7. Politik dan strategi nasional.

c.  Rumpun Keilmuan

Pendidikan Kewarganegaraan (Kewiraan) disejajarkan Civics Education yang dikenal di berbagai Negara. Sebagai bidang studi ilmiah Pendidikan Kewarganegaraan bersifat interdisipliner bukan monodisipliner, karena kumpulan pengetahuan yang  membangun  ilmu Kewarganegaraan ini diambil dari berbagai disiplin ilmu. Maka dalam upaya pembahasan dan pengembangannyapun perlu dibantu oleh disiplin ilmu-ilmu yang lain seperti: ilmu  hukum, ilmu  politik, sosiologi, administrasi negara, ilmu ekonomi pembangunan, sejarah perjuangan  bangsa dan ilmu filsafat.

2. Landasan hukum

  1. Undang-Undang Dasar 1945
    1. Pembukaan UUD 1945 alenia ke dua tentang cita-cita mengisi   kemerdekaan, dan alinea ke empat khususnya tentang tujuan negara.
    2. Pasal 30 ayat (1), Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut   serta alam usaha pembelaan negara.
    3. Pasal 31 ayat (1), Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran.
    4. Undang-Undang Nomor 20 tahun 1982

Undang-Undang No.20/1982 adalah tentang ketentuan-ketentuan pokok Pertahanan Kemanan Negara Republik Indonesia.

  1. Pasal 18 Hak  dan kewajiban warga  negara yang diwujudkan dengan keikutsertaan dalam upaya bela negara diselenggarakan melalui Pendidikan Pendahuluan Bela Negara sebagai bagian tidak terpisahkan dalam sistem pendidikan nasional.
  2. Pasal 19,  ayat (2) Pendidikan Pendahuluan Bela Negara wajib diikuti oleh  setiap warga  negara dan dilaksanakan secara bertahap, yaitu:
  3. Tahap awal pada pendidikan tingkat dasar sampai menengah dan dalam gerakan pramuka.
  4. Sikap lanjutan dalam bentuk Pendidikan Kewiraan pada tingkat Pendidikan Tinggi.

c.   Undang-Undang  Nomor 2 tahun 1989

Undang-Undang No.2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menjelaskan bahwa:

”Pendidikan Kewarganegaraan merupakan usaha untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warga negara dan negara serta Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

3.  Landasan ideal

Landasan ideal Pendidikan Kewarganegaraan yang sekaligus menjadi jiwa dikembangkannya Pendidikan Kewarganegaraan adalah Pancasila. Pancasila sebagai sistem filsafat menjiwai semua konsep ajaran Kewarganegaraan, yang dalam sistematikanya dibedakan atas tiga hal, yaitu: Pancasila sebagai dasar negara, Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila sebagai ideologi negara. Ketiga hal ini hanya dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan sebagai kesatuan.

a. Pancasila sebagai Dasar Negara

Pancasila sebagai dasar negara merupakan dasar pemikiran tindakan negara dan menjadi sumber dari segala sumber hukum negara Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara pola pelaksanaanya terpancar dalam empat pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan UUD  1945, dan selanjutnya dijabarkan dalam pasal-pasal UUD 1945  sebagai strategi pelaksanaan Pancasila sebagai dasar negara.

Pokok pikiran pertama  yaitu pokok pikiran persatuan yang berfungsi sebagai dasar negara (dalam kesatuan organis) merupakan landasan dirumuskannya wawasan nusantara, dan pokok pikiran kedua, yaitu pokok pikiran keadilan sosial yang  berfungsi sebagai tujuan negara (dalam kesatuan organis) merupakan tujuan wawasan nusantara.

Tujuan negara dijabarkan langsung dalam Pembukaan UUD 1945 alenia IV, yaitu  tujuan berhubungan dengan segi keamanan dan segi kesejahteraan dan tujuan berhubungan dengan segi ketertiban dunia.

Berdasarkan landasan itu maka wawasan nusantara pada dasarnya adalah sebagai perwujudan nilai sila-sila Pancasila di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

b. Pancasila sebagai Pandangan Hidup

Pancasila sebagai pandangan hidup merupakan kristalisasi nilai-nilai lihur yang  diyakini kebenarannya. Perwujudan  nilai-nilai luhur Pancasila terkandung juga dalam wawasan nusantara, demi  terwujudnya ketahanan nasional. Dengan demikian ketahanan nasional itu disusun dan dikembangkan juga tidak boleh lepas dari  wawasan nusantara.

Perwujudan nilai-nilai Pancasila mencakup lima bidang kehidupan nasional, yaitu bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan landasan, yang disingkat dengan (poleksosbud Han-Kam), yang  menjadi dasar pemerintahan ketahanan  nasional. Dari lima bidang kehidupan nasional itu bidang ideologilah yang menjadi landasan dasar, berupa Pancasila sebagai  pandangan hidup yang  menjiwai empat bidang  yang lainnya.

Dasar pemikiran ketahanan nasional di samping lima bidang kehidupan nasional tersebut yang merupakan aspek sosial pancagatra didukung pula adanya dasar pemikiran aspek alamiah  triagatra.

a. Pancasila sebagai Ideologi  Negara

Pancasila  sebagai ideologi negara merupakan kesatuan konsep-konsep dasar yang memberikan arah dan tujuan menuju pencapaian cita-cita bangsa dan negara. Cita-cita bangsa dan negara yang berdasarkan Pancasila itu terpancar melalui alinea ke dua Pembukaan UUD 1945, merupakan cita-cita untuk  mengisi kemerdekaan, yaitu: bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.(Kaelan,2007:3)

  1. TUJUAN DAN KOMPETENSI MATA KULIAH PKN DI INDONESIA

1. Visi Mata Kuliah PKn

Visi pendidikan kewarganegaraan menurut Dirut Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 dalam Laksono ,(2011 : 1) adalah visi pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi adalah merupakan sumber nilai dan pedoman dalam pengembangan dan penyelenggaraan program studi guna mengantarkan mahasiswa memantabkan kepribadiannya sebagai manusia seutuhnya.

2. Misi Mata Kuliah PKn

Menurut Bakry, (2008:9) misi pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi membantu mahasiswa memantabkan kepribadiannya agar secara konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar Pancasila ,rasa kebangsaan dan cinta tanah air sepanjang hayat dalam menguasai,menerapkan dan mengembangkan ilmu penegtahuan teknologi dan seni yang dimilikinya dengan rasa tanggungjawab serta memgang teguh persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara.

3. Tujuan Mata Kuliah PKn

Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan berdasarkan Kep. Dirjen Dikti No. 267/Dikti/2000, tujuan Pendidikan Kewarganegaraan mencakup:

1. Tujuan Umum

Untuk memberikan pengetahuan dan kemampuan dasar kepada mahasiswa mengenai hubungan antara warga negara dengan negara serta PPBN agar menjadi warga negara yang diandalkan oleh bangsa dan negara.

2. Tujuan Khusus

a. Agar mahasiswa dapat memahami dan melaksanakan hak dan kewajiban secara santun, jujur, dan demokratis serta ikhlas sebagawai WNI terdidik dan bertanggung jawab.

b. Agar mahasiswa menguasai dan memahami berbagai masalah dasar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta dapat mengatasinya dengan pemikiran kritis dan bertanggung jawab yang berlandaskan Pancasila, Wawasan Nusantara, dan Ketahanan Nasional.

c. Agar mahasiswa memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kejuangan, cinta tanah air, serta rela berkorban bagi nusa dan bangsa.

4. Kompetensi Mata Kuliah PKn

Menurut Pokja Kewarganegaraan Lemhanas 2001 Kompetensi Lulusan Pendidikan Kewarganegaraan adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh rasa tanggung jawab dari seorang warga negara dalam berhubungan  dengan negara memecahkan berbagai  masalah hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan menerapkan konsepsi falsafah  bangsa. Wawasan nusantara dan Ketahanan nasional. Pendidikan Kewarganegaraan yang berhasil akan membuahkan sikap

mental yang cerdas, penuh tanggung jawab dari peserta didik. Sikap ini disertai perilaku yang:

1. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menghayati nilai-nilai Pancasila

2. Berbudi pekerti luhur, berdisiplin dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

3. Rasional, dinamis, dan  sadar akan hak dan  kewajiban sebagai warga negara

4. Bersifat profesional, yang dijiwai oleh kesadaran bela negara

5. Aktif memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni

untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa dan Negara.

http://www. pengantar-pendidikan-kewarganegaraan_23.html/

  1. RANGKUMAN

Dalam menghadapi globalisasi dan menatap masa depan untuk mengisi kemerdekaan, kita memerlukan perjuangan non-fisik sesuai dengan bidang profesi masing-masing. Perjuangan non-fisik sesuai bidang profesi masing-masing tersebut memerlukan saran kegiatan pendidikan bagi warga negara Indonesia pada umumnya dan mahasiswa sebagai calon cendikiawan pada khususnya yaitu melalui Pendidikan Kewarganegaraan. Di Indonesia pelajaran Civics telah dikenal sejak jaman Hindia Belanda dengan nama “Burgerkunde”. Pada kurikulum 1957 istilah yang digunakan yaitu Pendidikan Kewarganegaraan. Kemudian pada kurikuluk 1961 berubah menjadi CIVICS lagi, kemudian pada kurikulum 1968 menjadi Pendidikan Kewargaan Negara (PKN). Selanjutnya kurikulum 1975 menjadi PMP. Pada kuriukulim 1994 berubah lagi menjadi PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Landasan pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi meliputi landasan ilmiah,landasan hokum ,dan landasan ideal. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan secara singkat adalah memupuk kesadaran kewajiban asasi dalam usaha pembelaan Negara dengan perilaku cinta tanah air dalam usaha pertahanan keamanan Negara dengan kesadasran berbangsa dan bernegara yang berpola piker komprehensif intergral.Visi Pendidikan Kewarganegaraan yaitu memantabkan kepribadiannya sebagai manusia Indonesia seutuhnya dan memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur.Misi Pendidikan Kewarganegaraan adalah mewujudkan nilai-nilai dasar pancasila ,rasa kebangsaan dan cinta tanah airsepanjang hanyat dalam menguasai ,menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi dan seni yang dimiliknya dengan rasa tanggung jawabserta memegang teguh persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara.

  1. Latihan Soal (Pilihan Ganda Sejumlah 10 Point)
    1. Pelajaran Civics di Indonesia  telah dikenal sejak jaman…
      1. Kerajaan Majapahit
      2. Hindia
      3. Jepang
      4. Kerajaan Sriwijaya
      5. Hindia Belanda

2. Pancasila merupakan kesatuan konsep-konsep dasar yang memberikan arah dan tujuan menuju pencapaian cita-cita bangsa dan negara,merupakan pengertian pancasila sebagai…

  1. Pancasila seagai pandangan hidup bangsa
  2. Pancasila sebagai dasar negara
  3. Pancasila sebagai ideologi negara
  4. Pansasila sebagai sumber nilai
  5. Pancasila sebagai falsafah hidup
  1. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan berdasarkan Kep. Dirjen Dikti No. 267/Dikti/2000, tujuan Pendidikan Kewarganegaraan mencakup…
    1. Tujuan umum
    2. Tujuan bebas
    3. Tujuan umum dan tujuan khusus
    4. Tujuan khusus dan tujuan bebas
    5. Tujuan bebas dan tujuan umum
  1. Mahasiswa dapat memahami dan melaksanakan hak dan kewajiban secara santun, jujur, dan demokratis serta ikhlas sebagawai WNI terdidik dan bertanggung jawab,pernyataan tersebut merupakan…
    1. Visi PKn
    2. Tujuan Umum PKn
    3. Misi PKn
    4. Tujuan Khusus PKn
    5. Tujuan Bebas Pkn
  1. Pokok-pokok Penyelenggaraan Pertahanan dan Keamanan Negara ditentukan dalam peraturan…
    1. Kep. Dirjen Dikti  No.267/Dikti/Kep/2000
    2. UU No. 2 tahun 1989
    3. UU No. 20 tahun 1982
    4. Kep. Dirjen Dikti No. 19/Dikti/1997
    5. . Kep. Dirjen Dikti No. 20/Dikti/2000
  1. Untuk menjadi ilmuan yang professional yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air,demokratis dan keadaban,serta memiliki daya saing,berdisiplin,berpartisipasi aktif dalam pembangunan kehidupan yang damai berdasarkan system nilai Pancasila,pernyataan tersebut merupakan…
    1. Misi Pkn
    2. Kompetensi mata kuliah Pkn
    3. Tujuan Khusus Pkn
    4. Visi Pkn
    5. Landasan Umum Pkn
  1. Pasal 30 ayat (1) dalam UUD 1945 menyebutkan bahwa…
    1. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut   serta alam usaha pembelaan negara.
    2. Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran.
    3. Tiap-tiap warga negara bebas berserikat dan berkumpul
    4. Tiap-tiap warga negara berhak memeluk agama yang dinyakini
    5. Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan perlindungan hukum

8. Mata kuliah PKn di perguruan tinggi menggunakan istilah Pendidikan Pancasila mulai pada tahun…

  1. 1994-sekarang
  2. 1965-1970
  3. 1970-2000
  4. 1965-1997
  5. 1960-2001
  1. Dibawah ini yamg merupakan landasan pendidikan kewarganegaraan yaitu…
    1. Landasan yuridis
    2. Landasan konvensional
    3. Landasan ideal
    4. Landasan teoritik
    5. Landasan ideologi
  1. Dibawah ini yang merupakan objek formal dari pendidikan kewarganegaraan adalah…
    1. Wawasan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
    2. hubungan antara warga negara dengan negara
    3. Sikap dan perilaku warga negara dalam NKRI
    4. Wawasan dan sikap warga negara dalam NKRI
    5. pembelaan negara dan hubungan antara warga negara dengan negara

DAFTAR PUSTAKA

Bakry,Noor Ms.2009.Pendidikan Kewarganegaraan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Kaelan;Zubaidi,Acmad.2007.Pendidikan Kewarganegaraan untuk perguruan tinggi berdasarkan SK DIRGEN DIKTI NO. 43/DIKTI/KEP/2006.Yogyakarta : Paradigma Yogyakarta

Laksono,Danang Tanjung.2011.Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi.Sukoharjo: Pustaka Abadi Sejahtera

Gunadarma.2010.” Pendidikan Kewarganegaraan .(http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pendidikan_kewarganegaraan/bab1-pengantar_pendidikan_kewarganegaraan.pdf)

Raharjo.2009.”Pengertian,Sejarah,Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan. (http://www.sejarahpkn/pengertian,tujuan,sejarah pendidikan kewarganegaraan « raharjo online.html) diakses tanggal 19 September 2011

Cendrawasih Selampari.2009.”Pengantar Pendidikan Pkn”.(http://www. pengantar-pendidikan-kewarganegaraan_23.html/) diakses tanggal 2 Januari 2012

Leave a comment »

Proposal PTK

MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAM BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN METAKOGNITIF

( PTK pada siswa kelas VII SMP N 1 BULU )

 

BAB 1

PENDAHULUAN

  1. A.  Latar Belakang

Pembelajaran adalah suatu proses yang rumit karena tidak sekedar menyerap informasi dari guru tetapi melibatkan berbagai kegiatan dan tindakan yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik. Salah satu kegiatan pembelajaran yang menekankan berbagai kegiatan dan tindakan yaitu menggunakan metode tertentu dalam pembelajaran tersebut. Metode dalam pembelajaran merupakan cara yang digunakan guru, yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran (Uno Hamzah, 2007:2).

Proses pembelajaran tersusun atas sejumlah komponen atau unsur yang saling berkaitan satu sama lainnya. Peran guru dalam mengajar sangat penting. Interaksi antara guru dengan peserta didik pada saat proses belajar mengajar memegang peranan penting dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Kemungkinan kegagalan guru dalam menyampaikan suatu pokok bahasan disebabkan pada saat proses belajar mengajar guru kurang membangkitkan perhatian dan aktivitas peserta didik dalam mengikuti pelajaran.

Matematika sebagai salah satu mata pelajaran dasar pada setiap jenjang pendidikan formal yang memegang peran penting. Matematika dapat membantu siswa berfikir ilmiah, logis dan kritis. Di samping itu, matematika merupakan pengetahuan dasar yang di perlukan oleh peserta didik untuk menunjang keberhasilan belajarnya dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Mengingat pentingnya peranan matematika, maka pelajaran matematika di berbagai jenjang pendidikan formal perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Matematika dipandang sebagai salah satu pelajaran yang sulit dan sangat menakutkan, sehingga berakibat prestasi belajar matematika siswa masih rendah.

Belajar merupakan suatu proses yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku baik potensial maupun aktual dan bersifat relatif permanen sebagai akibat dari latihan dan pengalaman. Dalam kegiatan pembelajaran siswa dituntut keaktifannya. Aktif yang dimaksud adalah siswa aktif bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajarkan guru, mengemukakan gagasan/ mengeluarkan ide, menanggapi secara positif dan terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, karena belajar memang merupakan suatu proses aktif dari  siswa dalam membangun pengetahuannya.

Rendahnya keaktifan siswa dalam belajar matematika juga dialami siswa SMP  Negeri 1 Bulu. Faktor yang menyebabkan rendahnya keaktifan belajar matematika di tempat tersebut adalah siswa kurang mampu melibatkan diri secara aktif dalam proses belajar mengajar, walaupun ada satu dua orang yang aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa hanya pasif dalam mengikuti pelajaran karena guru cenderung monoton menguasai kelas sehingga siswa kurang leluasa dalam menyampaikan ide-idenya. Siswa kurang memberi respon yang positif terhadap matematika Siswa kurang rajin dalam mengerjakan latihan-latihan soal. Siswa takut bertanya kepada guru apabila kurang jelas atau tidak paham.

Sebagai konsekuensinya adalah titik berat proses belajar mengajar harus berpindah dari guru kepada siswa, ini menyangkut keaktifan siswa dalam belajar. Tugas guru dalam hal ini adalah menciptakan iklim dan suasana yang memungkinkan siswa dapat belajar dengan baik dan efesien. Kelemahan lain dari kondisi belajar mengajar yang dialami siswa selama ini adalah siswa di tempatkan sebagai peserta didik yang sifatnya pasif, sehingga potensi-potensi yang dimiliki siswa sulit dikembangkan yang pada akhirnya siswa kurang memperlihatkan keaktifan dalam proses balajar mengajar.

Oleh karena itu, dalam proses belajar matematika guru harus memperlihatkan agar siswa belajar aktif, gembira, mengerti serta aktif, efektif dan efesien, sebab belajar aktif dapat menyebakan ingatan mengenal pelajaran tahan lama dan pengetahuan meluas serta dapat menemukan prinsip-prinsip matematika untuk diri mereka sendiri.

Faktor tunggal yang sangat penting dalam proses mengajar belajar adalah apa yang telah diketahui oleh siswa berupa materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Apa yang telah dipelajari siswa dapat dimanfaatkan dan dijadikan sebagai titik tolak dalam mengkomunikasikan informasi atau ide baru dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat melihat keterkaitan antara materi pelajaran yang telah dipelajari dengan informasi atau ide baru. Namun sering terjadi siswa tidak mampu melakukannya.

Berdasarkan permasalahan tersebut diatas, hendaknya guru mampu memilih dan menerapkan strategi pembelajaran yang mampu merangsang siswa untuk lebih aktif dalam belajar matematika yaitu dengan menggunakan strategi pembelajaran Metakognitif.

Strategi Pembelajaran Metakognitif adalah pembelajaran yang menanamkan kesadaran bagaimana merancang, megontrol, serta memonitor tentang apa yang mereka ketahui; apa yang diperlukan untuk mengerjakan dan bagaimana melakukannya (Suzana: 2004, B4-3)

Dengan adanya permasalahan tersebut, maka penulis termotivasi untuk melakukan penelitian tentang penerapan strategi pembelajaran Metakognitif sebagai salah satu upaya meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika.

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Apakah dengan pembelajaran Metakognitif dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar matematika?
    2. Adakah pengaruh pembelajaran Metakognitif terhadap proses belajar matematika siswa?

 

  1. C.    Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah diatas, tujuan utama penelitian tindakan ini adalah menggunakan strategi pembelajaran Metakognitif dalam keaktifan belajar matematika. Secara lebih spesifik, tujuan penelitian tindakan ini dijabarkan sebagai berikut :

  1. Meningkatkan keaktifan belajar matematika siswa dengan strategi pembelajaran Metakognitif.
  2. Mengetahui pengaruh pembelajaran matematika dengan strategi pembelajaran Metakognitif  bagi siswa.

 

  1. D.    Manfaat Penelitian
    1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada pembelajaran matematika terutama pada peningkatan keaktifan belajar siswa dengan strategi pembelajaran Metakognitif.

  1. Manfaat Praktis
    1. Bagi guru

Temuan ini dapat digunakan sebagai pedoman empiris dalam menyiapkan berbagai strategi pembelajaran dalam upaya mengarahkan siswa untuk mencapai keaktifan belajar yang optimal.

  1. Bagi siswa

1).    Meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran matematika.

2).    Siswa lebih termotivasi dan berminat dalam mengikuti proses pembelajaran.

3).    Dapat membantu siswa dalam belajar matematika sehingga siswa dapat memahami materi dengan baik.

 

  1. E.     Definisi Istilah
    1. Keaktifan siswa dalam belajar Matematika

Keaktifan siswa dalam belajar Matematika adalah dalam kegiatan pembelajaran siswa dituntut keaktifannya. Aktif yang dimaksud adalah siswa aktif bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajarkan guru, mengemukakan gagasan/ mengeluarkan ide, menanggapi secara positif dan terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, karena belajar memang merupakan suatu proses aktif dari  siswa dalam membangun pengetahuannya.

  1. Pembelajaran Metakognitif

Pembelajaran Metakognitif adalah kesadaran berpikir tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Dalam konteks pembelajaran, siswa mengetahui bagaimana untuk belajar, mengetahui kemampuan dan modalitas belajar yang dimiliki, dan mengetahui strategi belajar terbaik untuk belajar efektif.

Ada tiga strategi pembelajaran metakognitif yang dapat dikembangkan untuk meraih kesuksesan belajar siswa, diantaranya:

  1. Tahap proses sadar belajar
  2. Tahap merencanakan belajar
  3. Tahap monitoring dan refleksi belajar

 

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. A.    Kajian Teori
  2. Keaktifan Siswa Belajar Matematika
    1. Hakikat Matematika

Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang penting sebagai pengantar ilmu-ilmu pengetahuan yang lain dan banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pandangan formalis, matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi matematika; ada pula pandangan lain, misalnya yang dibahas dalam filosofi matematika.

Menurut Tinggih (dalam Hudojo, 2005) matematika tidak hanya berhubungan dengan bilangan-bilangan serta operasi-operasinya, melainkan juga unsur ruang sebagai sasarannya. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), matematika didefinisikan sebagai ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan. (Hasan Alwi, 2002:723).

Dengan beberapa pengertian Matematika diatas dapat dikatakan bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari bilangan-bilangan, unsur ruang dan pola hubungan yang ada didalamnya dengan operasional sebagai penyelesaian masalahnya. Ini berarti bahwa belajar matematika pada hakekatnya adalah belajar konsep, struktur konsep dan mencari hubungan antar konsep dan strukturnya.

  1. Konsep Belajar

Belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan sehingga terjadi perubahan yang lebih baik/ belajar merupakan proses perubahan tingkah laku. Perubahan dimaksud baik berupa fisik maupun psikis meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Perubahan dapat terjadi sebagai akibat dari latihan maupun pengalaman.

Belajar adalah satu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam  interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: 2).

Menurut Moh. Surya dalam Sudrajat (2010: 1) memaparkan bahwa belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungan.

Dari pengertian – pengertian tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah kegiatan/ aktivitas yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan karena suatu usaha sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku.

  1. Konsep Keaktifan

Keaktifan adalah kegiatan, kesibukan. Berasal dari kata aktif yang artinya bekerja, berusaha. Keaktifan yang dimaksud adalah kektifan siswa dalam bertanya, mengemukakan pendapat, mengerjakan soal-soal latihan dalam proses pembelajaran.

Hermawan (2007: 83) keaktifan siswa dalam kegiatan belajar tidak lain adalah untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri. Mereka aktif membangun pemahaman atas persoalan atau segala sesuatu yang mereka hadapi dalam kegiatan pembelajaran.

Rochman Nata Wijaya dalam Depdiknas (2005: 31) belajar aktif adalah suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Dengan keaktifan belajar siswa dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan termasuk sikap dan nilai. Sehubungan dengan hal tersebut sistem pembelajaran dalam dewasa ini siswa dituntut untuk lebih aktif dalam mengeluarkan gagasan/ide mereka untuk memecahkan suatu permasalahan guna untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

  1. Konsep Keaktifan Belajar Matematika

Sudjana (2001: 61) mengatakan bahwa keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, terlibat dalam pemecahan masalah, bertanya kepada siswa lain atau kepada guru jika tidak memahami persoalan yang dihadapinya.

Dalam proses belajar mengajar matematika, guru harus dapat meningkatkan keaktifan siswa belajar matematika dalam berfikir maupun bertindak. Dengan aktifitas  belajar yang menyenangkan, kemungkinan pelajaran matematika tidak akan membosankan dan siswa akan lebih memperhatikan  dan bersemangat untuk merespon pelajaran tersebut, misalnya siswa berani bertanya, mengerjakan tugas kedepan kelas, mengeluarkan ide/ pendapat, dan sebagainya.

Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran matematika memiliki manfaat tertentu antara lain: 1) siswa dapat lebih belajar aktif, 2) siswa dapat mengeluarkan gagasan atau ide yang dimilikinya, 3) siswa lebih bersemangat/ termotivasi untuk mengikuti proses kegiatan pembelajaran, 4) siswa dapat memecahkan masalah/persoalan tentang pelajaran matemtika yang dihadapi, 5) dapt meningatkan hasil belajar siswa.

  1. Strategi Pembelajaran Metakognitif
    1. Hakikat Pembelajaran

Pembelajaran adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa serta terdapat timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu agar dapat lebih baik.

Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno, 2004: 2). Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 157) pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses timbal balik yang berlangsung antara guru dengan siswa dalam belajar bagaimana memperoleh pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat mencapai tujuan tertentu agar lebih baik.

  1. Konsep Strategi Pembelajaran Metakognitif

Strategi Pembelajaran Metakognitif adalah pembelajaran yang menanamkan kesadaran bagaimana merancang, mengontrol, serta memonitor tentang apa yang mereka ketahui; apa yang diperlukan untuk mengerjakan dan bagaimana melakukannya (Suzana: 2004, B4-3).

Proses Metakognitif dapat dibagi menjadi 5 macam yaitu:

  1. Merancang kegiatan belajar

Pada kegiatan belajar mengajar belangsung sebaiknya guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menyampikan gagasannya setelah kegiatan belajar mengajar selesai guru perlu mengadakan evaluasi dari kegiatan tersebut.

  1. Mengidentifikasi ide utama

Mengidentifikasi adalah suatu teknik penting untuk menjelaskan gagasan/ ide yang akan disampaikan. Perilaku siswa dapat menimbulkan gagasan/ ide yang siswa dapatkan sebelum, sewaktu, dan setelah siswa membaca, mendengar dan melihat sesuatu.

  1. Strategi pemecahan masalah

Guru berdiskusi dengan siswa tentang strategi pemecahan masalah yang akan dipilih agar persoalan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan strategi yang tepat.

  1. Menilai berdasar berbagai kriteria

Metakognitif dikembangkan dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk membuat refleksi dan mengkategorikan tindakan mereka berdasarkan dua atau lebih kriteria penilaian.

  1. Membangkitkan gagasan siswa

Guru dapat membantu siswa dalam metakognisi dengan memparafrasa pernyataan yang kemukakan oleh siswa. Melalui cara ini siswa dibimbing agar dapat menyampaikan gagasan/ ide yang mereka punya lebih mendalam.

Strategi pembelajaran Metakognitif juga mempunyai kelebihan, antara lain:

1)      Siswa dapat belajar aktif, aktif bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajarkan guru, dapat mengemukakan gagasan/ mengeluarkan ide, menanggapi secara positif dan terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran.

2)      Siswa dapat belajar dengan hati yang gembira dan tidak tertekan sehingga proses belajar mengajar bisa lebih menyenangkan.

3)      Dapat mengubah cara belajar siswa menjadi lebih baik dari yang sebelumnya, serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

  1. Penerapan Strategi Pembelajaran Metakogntif  Pada Pembelajaran Matematika Materi Statistika yaitu ukuran pemusatan data.

Langkah-langkah strategi pembelajaran Metakognitif pada materi statistika pada ukuran pemusatan data:

1)      Siswa membahas materi tentang  Mean, Median dan Modus pada data tunggal.

a)      Pengertian Mean, Median dan Modus

Mean (rata-rata) yaitu jumlah jumlah seluruh data dibagi oleh banyak datum.

Median yaitu nilai tengah dari data yang telah diurutkan dari datum terkecil ke datum terbesar.

Modus yaitu datum yang sering muncul.

b)      Rumus

Mean :

Median :       jika data ganjil =

Jika data genap =

Contoh :

a. Mean :      Jika diketahui nilai rapor Lina 8, 7, 7, 9, 8, 6, 7, 8, 9, 6,

7.

Tentukan mean (rata-ratanya) ?

  1. Median : Tentukan median dari bilangan-bilangan berikut: 6, 4, 8,

9, 3, 8, 5, 9, 7.

  1. Modus :   Jika dipunyai data 45,  48, 50, 55, 53, 54, 50, 49.

c)      Penyelesaian mean, median, modus, dapat diselesaikan dengan metode dibawah:

  1. Mean

Dengan menggunakan rumus

Jadi mean (rata-rata) nilai rapor Lina adalah 7, 45

  1. Median

Urutkan dahulu data tersebut dari datum terkecil ke datum

terbesar sehingga diperoleh data berikut

3 4 5 6 7 8 8 9 9

dengan menggunakan rumus

Jadi mediannya adalah datum ke 5 setelah data tersebut diurutkan

yaitu 7

  1. Modus

Datum yang paling sering muncul adalah 50 yaitu sebanyak dua kali. Jadi modusnya adalah 50.

2)      Siswa mengidentifikasi ide utama yaitu  menjelaskan gagasan/ ide yang akan disampaikan.

3)      Guru dan siswa menentukan strategi pemecahan masalah yang tepat untuk dipilih.

4)      Siswa diberi kesempatan untuk membuat refleksi tentang materi yang mereka bahas dan mengkategorikan tindakan mereka berdasarkan dua atau lebih kriteria penilaian.

5)      Siswa dibimbing agar dapat menyampaikan gagasan/ ide yang mereka punya lebih mendalam.

  1. B.     Kajian Pustaka

Pada dasarnya suatu penelitian tidak berjalan dari nol secara murni, akan tetapi umumnya telah ada acuan yang mendasari atau penelitian yang sejenis. Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika. Oleh karena itu dirasa perlu mengenali penelitian yang terdahulu dan relevansinya.

Hasil penelitian dari Dewi Noviawati (2009) berjudul “Upaya Peningkatan Keaktifan Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Make A Math menyimpulkan bahwa: Keberanian siswa dalam mengerjakan soal didepan kelas mencapai 72,5%, dalam mengemukakan pendapat mencapai 60%, dalam mengajukan pertanyaan mencapai 65% dan dalam menjalin kerjasama kelompok mencapai 70%.

Asep Tunjung Mardana (2009) dalam penelitiannya yang berjudul “ Peningkatan Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan SAVI” menyimpulkan bahwa: keberanian siswa dalam bertanya mencapai 50%, dalam menjawab pertanyaan mencapai 52,63% dan keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat mencapai 44,73%.

Nurul Waqidatun (2009) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa hasil belajar dalam upaya peningkatan keaktifan belajar siswa dapat dilakukan dengan cara perbaikan pembelajaran melalui pendekatan Take and Give.

Sony Prihantono (2009) dalam penelitiannya menyatakan bahwa melalui strategi Think-Talk-Write dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa dimana pada dasarnya adalah meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar.

Dari beberapa penelitian-penelitian di atas dapat diuraikan secara singkat melalui tabel dibawah ini :

Tabel 2. 1. Tabel Perbedaan Variabel Penelitian

No

Peneliti

Variabel

X1

X2

X3

X4

X5

X6

1.

Asep Tunjung Mardina

Ö

Ö

2

Dewi Noviawati

Ö

Ö

3.

Nurul Waqidatun

Ö

4.

Sony Prihantono

Ö

5

Peneliti

Ö

Ö

Keterangan:

X1 : pendekatan make a match

X2 : pendekatan SAVI

X3 : strategi Think-Talk-Write

X4 : pendekatan Take and Give

X5 : strategi Metakognitif

X6 : keaktifan

  1. C.    Kerangka Berfikir

               Berdasarkan kajian teori yang telah diuraikan di atas dapatlah disusun suatu kerangka berpikir guna memperoleh jawaban sementara atas kesalahan yang timbul. Prosedur penelitian tindakan kelas ini merupakan siklus dan dilaksanakan sesuai perencanaan tindakan atau perbaikan dari perencanaan tindakan terdahulu. Tindakan kelas yang dilaksanakan berupa pengajaran di kelas secara sistematis dengan tindakan pengelolaan kelas dengan strategi pembelajaran yang tepat yang mengacu pada perencanaan tindakan yang telah tersusun sebelumnya. Dalam setiap tindakan, peneliti akan mengamati keaktifan belajar siswa di dalam pembelajaran matematika.

Pada kondisi awal siswa kelas VII SMP Negeri 1 Bulu mempunyai keaktifan  belajar matematika yang rendah. Dari hasil observasi diperoleh hasil: 1) Siswa tidak ada yang bertanya tentang ketika guru memberikan kesempatan untuk bertanya, 2) Kurangnya keberanian siswa untuk menjawab pertanyaan, 3) Kurangnya keberanian siswa untuk mengerjakan soal didepan kelas, 4) Pembelajaran masih berpusat pada guru. Hal tersebut dikarenakan guru masih kurang optimal dalam memanfaatkan strategi pembelajaran. Pemilihan strategi pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan keaktifan siswa belajar matematika.

Salah satu pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika adalah strategi pembelajaran metakognitif. Prosedur pembelajaran metakognitif adalah 1) siswa membahas materi tentang pelajaran yang telah ditentukan 2) siswa mengidentifikasi ide utama dengan menjelaskan gagasan/ ide yang akan disampaikan 3) guru dan siswa menentukan strategi pemecahan masalah yang akan digunakan 4) siswa diberi kesempatan untuk melakukan refleksi 5) siwa dibimbing agar dapat menyampaikan gagasan/ ide lebih mendalam.

Kondisi akhir yang diharapkan dengan penggunaan strategi pembelajaran metakognitif dalam proses belajar mengajar adalah dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar matematika, sehingga siswa akan memenuhi dan mencapai prestasi belajar yang memuaskan.

Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika masih kurang, bisa dilihat dari beberapa aspek berikut:

(1)   Siswa tidak ada yang bertanya ketika guru memberikan kesempatan untuk bertanya

(2)   kurangnya keberanian siswa untuk menjawab pertanyaan

(3)   kurangnya keberanian siswa untuk mengerjakan soal di depan kelas

Berdasarkan uraian diatas, kerangka berfikir penelitian ini dapat di ilustrasikan pada gambar 2.1.

Gambar 2. 1 Kerangka Pemikiran

Tindakan Tindakan

Meningkatnya keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika

Guru menyampaikan pelajaran dengan cara lebih mengaktifkan siswa melalui strategi pembelajaran metakognitif:

Kondisi Akhir

Kondisi Awal

  1. D.     Hipotesis

Berdasarkan hasil penelitian yang relevan dan kerangka pemikiran tersebut diatas maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan “Melalui strategi pembelajaran metakognitif dapat meningkatkan keaktifan belajar matematika bagi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Bulu”.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. A.    Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas ( PTK) atau Classroom Action Research (CAR) yang dilakukan secara kolaborasi antara kepala sekolah, guru matematika dan peneliti. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan kegiatan pemecahan masalah yang dimulai dari a) perencanaan, b) pelaksanaan, c) mengumpulkan data (observasi), d) menganalisis data atau informasi untuk memusatkan sejauh mana kelebihan atau kelemahan tindakan tersebut (refleksi). (Arikunto, 2007:20)

Penelitian Tindakan Kelas ditandai dengan adanya perbaikan terus menerus sehingga tercapainya sasaran dai penelitian tersebut. Perbaikan tersebut dilakukan pada setiap siklus yang dirancang oleh peneliti. PTK bercirikan perbaikan terus menerus sehingga kepuasan peneliti menjadi tolak ukur berhasilnya (berhentinya) siklus-siklus tersebut.

  1. B.     Tempat dan Waktu Penelitian
    1. Tempat Penelitian

Tempat yang digunakan sebagai penelitian untuk mengetahui peningkatan keaktifan siswa dalam belajar matematika melalui strategi pembelajaran Metakognitif adalah SMP N 1 Bulu.

  1. Waktu Penelitian

Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Juni 2011 sampai September 2011. Adapun rincian waktu penelitian sebagai berikut:

  1. Tahap Persiapan: minggu ke III bulan Mei sampai minggu ke III bulan Juni 2011
  2. Tahap Pelaksanaan: minggu ke IV bulan Juni sampai minggu ke II bulan Juli 2011
  3. Tahap Analisis Data: minggu ke III bulan Juli sampai minggu ke II bulan Agustus 2011
  4. Tahap Pelaporan minggu ke III bulan Agustus sampai minggu ke II bulan September 2011.
  1. C.    Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini, guru matematika dan peneliti bertindak sebagai subjek yang memberikn tindakan. Sedangkan objek peneliti yang menerima tindakan kelas adalah siswa kelas VII semester genap. Peneliti dibantu mitra guru matematika sebagai observer.

 

  1. D.    Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas secara kolaboratif yaitu penelitian yang bersifat praktis, situsional, kondisional dan kontekstual berdasarkan masalah yang muncul dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Peneliti bersama mitra guru matematika berupaya memperoleh hasil yang optimal melalui cara dan prosedur yang dinilai paling efektif, sehingga memungkinkan adanya tindakan yang berulang-ulang dengan revisi untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Mitra guru matematika didalam penelitian ini dilibatkan sejak: 1) dilog awal, 2) perencanaan tindkan, 3) pelaksanaan tindakan, 4) observasi, 5) refleksi, 6) evaluasi, dan 7) penyimpulan. Langkah-langkah penelitian dapat diilustrasikan pada gambar 3.1

Dialog awal

Tindakan I

Perencanaan I

Observasi Tindakan I

Putaran I

Evaluasi

Refleksi I

Pengertian dan Pemahaman

Perencanaan Terevisi

Tindakan II

Putaran II

Observasi tindakan II

Refleksi II

Evaluasi

Pengertian dan Pemahaman

Seterusnya sesuai alokasi Waktu tahapan yang direncanakan

Gambar 3.1 Siklus Pelaksanaan Penelitian

  1. Dialog Awal

Dialog awal merupakan sebagai upaya merekam segala peristiwa untuk mendiagnosa permasalahan guna menentukan fokus penelitian, selain itu bertujuan untuk menentukan fakta-fakta yang dapat digunakan untuk melengkapi kajian-kajian teori yang ada.

Dialog memberikan model dan alternatif pembelajaran yang akan dipraktekkan dan dikembangkan sehingga diperoleh kesepakatan untuk memecahkan masalah peningkatan keaktifan belajar matematika melalui strategi pembelajaran Metakognitif.

  1. Perencanaan Tindakan Kelas

Hasil dari dialog awal yang telah diputuskan dan disepakati bersama diharapkan membawa kesadaran pentingnya peningkatan keaktifan belajar siswa di SMP Negeri I Bulu, selanjutnya disusun langkah-langkah persiapan tindakan pembelajaran yang terdiri:

  1. Memperbaiki kompetensi material guru dalam bidang matematika

Setiap guru pasti mempunyai permasalahan sendiri dalam pembelajaran, maka lebih baik guru mengajukan masalah kemudian peneliti membantu mencari solusi masalah itu atau peneliti mengamati guru dalam kegiatan pembelajaran melakukan suatu kesalahan kemudian memberikan masukan.

  1. Identifikasi masalah dan penyebabnya

Peneliti merumuskan permasalahan siswa sebagai upaya meningktkan keaktifan siswa dalam pembelajaran mtematika. Tindakan ini  ditawarkan pada identifikasi masalah antara lain:

1)      Diskusi antara peneliti dengan guru kelas VII

Diskusi ini dilakukan untuk membahas batasan-batasan masalah yang terjadi pada siswa kelas VII SMP N 1 BULU.

2)      Tes awal yang diberikan sebelum dilakukan tindakan kelas.

Tes yang digunakan bertujuan untuk mengidentifikasi masalah keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika.

  1. Perencanaan solusi masalah

Tindakan dikembangkan berdasarkan akar penyebab masalah yaitu menerapkan pelaksanaan tindakan pembelajaran matematika yang tepat. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah adalah dengan strategi pembelajaran Metakognitif.

  1. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan dilakukan oleh peneliti akan diobservasi. Guru menjadi mitra atau action research. Karena peneliti berfungsi sebagai pengelola kegiatan belajar mengajar sehingga yang akan tampil sebagai aktor utama dalam implementasi tindakan adalah peneliti.

Dalam pelaksanaan pengajaran dikelas lebih mengarah pada substansi yang menjadi permasalahan pokok untuk meningkatkan keaktifan siswa untuk bertanya, mengemukakan pendapat, mengerjakan soal didepan kelas atau tidak didepan kelas.

  1. Observasi dan Monitoring

Observasi dan Monitoring adalah upaya merekam segala peristiwa yang terjadi selama tindakan itu berlangsung. Observasi berperan dalam upaya perbaikan praktek fungsional, melalui pemahaman yang lebih baik dan perencanaan tindakan yang lebih kritis.

Kegiatan ini dilakukan peneliti dengan dibekali lembar pengamatan, meliputi aspek-aspek identifikasi, waktu pelaksanaan, pendekatan, media, metode dan tindakan yang dilakukan oleh guru, tingkah laku siswa serta kekurangan dan kelebihan yang ditemukan. Observasi ini dilaksanakan selama tindakan kelas diberikan.

  1. Refleksi

Refleksi adalah mengingat kembali suatu tindakan seperti yang telah dicatat oleh observer. Refleksi berusaha memahami proses, masalah, persoalan, dan kendala yang nyata dalam tindakan strategi. Refleksi yang dilakukan adalah diskusi antara peneliti dan guru matematika unuk menelaah hasil tindakan yang telah dilakukan setiap akhir pembelajaran matematika, tetapi secara informal dapat dilakukan dialog untuk menangani masalah yang muncul.

  1. Evaluasi

Evaluasi hasil penelitian dilakukan untuk mengkaji hasil pelaksanaan, observasi dan refleksi pada setiap tindakan. Evaluasi diarahkan pada penemuan bukti-bukti peningkatan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika setelah dilaksanakan serangkaian tindakan.

Tahap ini merupakan proses penyederhanaan, memfokuskan dan mengorganisasikan data secara sistematis untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap tujuan penelitian. Kegiatan ini dilakukan setiap tindakan dilaksanakan.

  1. Penyimpulan

Penyimpulan merupakan pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisir dalam bentuk pernyataan atau kalimat yang singkat, padat dan bermakna. Hasil dari penelitian tersebut berupa peningkatan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika.

 

  1. E.     Metode Pengumpulan Data

Penelitian tindakan kelas dilakukan bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data primer adalah peneliti yang melakukan tindakan dan siswa yang menerima tindakan, sedangkan data sekunder berupa data dokumentasi. Pengambilan data dapat dilakukan dengan menggunakan tehnik pengumpulan data yang dibedakan menjadi dua. Metode yang digunakan yaitu metode pokok dan metode bantu.

  1. Metode pokok
    1. Metode observasi

Menurut Supardi dalam Arikunto (2008:127) observasi adalah kegiatan pengamatan (pengambiln data)  untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran. Observasi sebagai salah satu tehnik untuk mengamati secara langsung dengan teliti, cermat dan hati-hati terhadap fenomena dalam pembelajaran kelas.

Kegiatan observasi dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perilaku tindak belajar matematika siswa yaitu peningkaan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika.

  1. Metode Tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Metode tes digunakan untuk memperoleh data tentang keaktifan siswa dalam belajar matematika.

  1. Metode Bantu
    1. Catatan lapangan

Dalam hal ini, catatan lapangan yang digunakan adalah catatan pengalaman terhadap peristiwa-peristiwa penting yang memuat ada saat proses pembelajaran matematika yang belum terdapat dalam observasi. Kegiatan catatan pengamatan ini dilakukan peneliti dan guru matematika.

  1. Dokumentasi

Dokumentasi adalah suatu metode untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 2002:206). Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekolah dan nama siswa serta foto rekaman proses tindakan penelitian.

  1. F.     Instrumen Penelitian
  2. Pengembangan Instrumen

Instrumen dikembangkan oleh peneliti bersama mitra guru matematika dengan menjaga validitas ini. Berdasarkan cara pelaksanaan dan tujuan, penelitian ini menggunakan observasi. Dalam melakukan observasi menggunakan suatu pedoman yang dibagi menjadi tiga bagian yaitu observasi tindakan mengajar, observasi tindakan belajar yang bekaitan dengan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika, dan keterngan tambahan yang berkaitan dengan tindakan mengajar maupun tindakan belajar belum tercapai.

  1. Validitas Isi Instrumen

Instrumen penelitian tindakan kelas ini disusun untuk mengukur peningkatan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika, isnya dibuat berdasarkan perilaku siswa dan mata pelajaran yang berkaitan dengan diberikan dengan mengacu pada kurikulum yang berlaku. Menurut Arikunto ( 2007: 67) suatu instrumen dikatakan memiliki validitas ini jika mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi dan isi pelajaran yang diberikan. Validitas isi dapat diusahakan tercapainya sejak saat penyusunan dengan cara merinci materi kurikulum atau materi buku pelajaran.

  1. G.    Teknik Analisi Data

Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Dilakukan dengan metode alur. Menurut Milles dan Huberman ( Sutama, 2003: 14) teknik ini terdiri dari tiga alur kegiatan yang berlangsung secara bersamaan yang reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi.

Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian. Pada penyederhanaan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertlus lapangan. Kegiatan ini dilakukan dalam setiap tindakan dilaksanakan dalam rangka pemahaman terhadap sekumpulan informasi yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan. Sedangkan penarika kesimpulan dilaksanakan secara bertahap untuk memperoleh derajat kepercayaan yang tinggi. Dengan demikian langkah analisis data kualitatif dalam penelitian tindakan dilaksanakan semenjak tindakan-tindakan dilaksanakan.

 

  1. H.    Keabsahan Data

Data dalam penelitian ini disahkan melalui tehnik triangulasi. Triangulasi adalah tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain (Moleong, 2006: 256) triangulasi dialakukan dengan cara triangulasi tehnik dan sumber data.

Triangulasi sumber, diterapkan dengan mengambil data dari beberapa sumber, dalam penelitian ini sumber datanya adalah siswa, guru, dan kepala sekolah SMP Negeri 1 Bulu. Triangulasi tehnik dilakukan dengan menanyakan hal yang sama dengan tehnik berbeda yaitu dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi (Sugiyono, 2008: 209).

Triangulasi adalah tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Dalam penelitian ini, keabsahan dilakukan dengan triangulasi sumber, yaitu membandingkan data hasil pengamatan tes dengan hasil observasi lain.

 

DAFTAR PUSTAKA

Miler dan Huberman. 2003. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Unversitas Karya Indonesia

Moleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Uno, Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara

Sugiyono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfa Beta

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: rineka cipta

Abdurahman mulyono. 2003. Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. Jakarta: rineka cipta

Leave a comment »

Review Buku Penelitian Pendidikan Matematika

 REVIEW BUKU PENELITIAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

KONSEP DAN JENIS JENIS PENELITIAN

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan perkenanNya kami dapat membuat review buku metode penelitian pendidikan mengenai konsep dan jenis-jenis penelitian.

Sistematika penyajian materi review buku  ini disusun sedemikian rupa sehingga dapat memberikan  pedoman dan kiat-kiat kepada pembaca maupun pereview selanjutnya dalam mempelajari  konsep dan jenis-jenis secara mudah, lengkap, benar, dan terstruktur.

Adapun penjabaran materi review buku ini ,mengacu kepada konsep dan jenis-jenis penelitian,  yang mengutamakan pengertian  pemahaman konsep serta jenis penelitian di tinjau dari beberapa aspek.

Kami berharap review buku ini dapat memotivasi  maupun mempermudah memahami dalam mempelajari konsep dan jenis-jenis penelitian sehingga secara keseluruhan dapat ditingkatkan.

Kritik dan saran yang membangun dari para pembaca review  ini sangat kami harapkan demi penyempurnaan dalam melakukan review ini. Untuk itu kami ucapkan terima kasih.

Sukoharjo, 11 maret 2011

                                                                                                        Pereview

BAB 1

PENDAHULUAN

  1. A.      Latar Belakang

Review adalah kegiatan mereview atau meringkas ,mencari sesuatu yang bertujuan untuk memperdalam pengetahuan, baik yang bertujuan untuk kepentingan pribadi atau pun untuk kepentingan orang banyak. Penelitian yang mendalam akan menghasilkan sesuatu yang baru dan berbeda dengan yang sebelumnya.

Review ini berisi tentang penelitian yang memikirkan atau membuat konsep penelitian sebelum melakukan atau memulai penelitiannya. Konsep adalah suatu rancangan yang kemudian akan menjadi panutan atau tolok ukur dalam melakukan setiap kegiatan. Konsep selalu dipikirkan sebelum melakukan penelitian. Konsep yang matang akan menjadikan penelitian itu berjalan lancar dan mendapat hasil yang memuaskan.

Seseorang melakukan penelitian dikarenakan beberapa sebab yaitu, karena pengetahuan pemahaman dan kemampuan manusia sangat terbatas ,manusia memiliki dorongan untuk mengetahui atau curiosity, manusia di dalam kehidupannya selalu dihadapkan pada masalah, tantangan, ancaman,  kesulitan, baik di dalam dirinya, keluarganya, masyarakat sekitarnya serta di lingkungan kerjanya . Dan manusia merasa tidak puas dengan apa yang telah di capai, dikuasa, dan dimiikinya, ia selalu ingin yang lebih baik, lebih sempurna, lebih memberikan kemudahan, selalu ingin menambah dan meningkatkan ”kekayaan” dan fasilitas hidupnya.

Dari pernyataan diatas pereview dapat menemukan beberapa permasalahan :

  1. Masih kurangnya pemahaman konsep penelitian bagi seseorang yang melakukan penelitian.
  2. Masih kurangnya pemahaman terhadap langkah – langkah apa saja yang harus di tempuh untuk membuat suatu penelitian.

Dalam penelitian konsep dan jenis penelitian harus di perhatikan dalam membuat suatu penelitian, karena tanpa adanya konsep penelitian maka suatu penelitian itu tidak akan sistematis dan orientasi kerja ke depannya. Berdasarkan uraian diatas pereview bermaksud mengkaji tentang makna penelitian, karakteristik dan langkah-langkah penelitian serta jenis-jenis penelitian.Diharapkan dengan adanya review buku ini dapat bermanfaat dalam membuat penelitian.

  1. B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah dan pembatasan masalah tersebut di atas maka permasalahan yang akan dikaji dalam review ini sebagai berikut :

  1. Mengapa  penelitian perlu dilakukan?
  2. Bagaimanakah karakteristik dan langkah-langkah penelitian?
  3.  Apa saja jenis-jenis penelitian?
  1. C.      Tujuan

Sejalan dengan rumusan masalah diatas, tujuan utama review buku ini adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan penelitian secara berkesinambungan. Secara lebih spesifik, tujuan review ini dijabarkan sebagai berikut :

  1. Mengetahui pentingnya penelitan untuk dilakukan sebagai perbaikan dan pengembangan pengetahuan.
  2. Mengetahui karakteristik dan langkah-langkah penelitian.
  3. Mengetahui jenis-jenis penelitian secara lebih jelas.
  1. D.      Manfaat
  2. Manfaat Teoritis

Secara teoritis review ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam penelitian lebih lanjut  terutama pada peningkatan hasil penelitian.

  1. Manfaat Praktis
  • Bagi guru

Review ini dapat digunakan sebagai pedoman empiris dalam menyiapkan berbagai strategi penelitian dalam upaya meningkatkan hasil penelitian (menemukan metode pembelajaran yang lebih efektif dan efisien).

  • Bagi mahasiswa
  1. Meningkatkan pengetahuan siswa tentang penelitian
  2. Mahasiswa lebih termotivasi dan berminat dam melakukan penelitian

 

BAB II

KAJIAN TEORI

  1. A.     Pengertian Penelitian

Penelitian atau research berasal dari kata re dan  to search yang berarti mencari kembali yang menunjukkan adanya proses berbentuk siklus bersusun yang selalu berkesinambungan.. Penelitian dimulai dari hasrat keingintahuan dan permasalahan, dilanjutkan dengan pengkajian landasan teoritis yang terdapat dalam kepustakaan untuk mendapatkan jawaban sementara atau hipotesis. Selanjutnya direncanakan dan dilakukan pengumpulan data untuk menguji hipotesis yang akan diperoleh kesimpulan dan jawaban permasalahan.

Penelitian dapat didefinisikan sebagai upaya mencari jawaban yang benar atas suatu masalah berdasarkan logika dan didukung oleh fakta empiris.Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian adalah langkah sistematis dalam upaya memecahkan masalah. Penelitian merupakan penelaahan terkendali yang mengandung dua hal pokok yaitu logika berpikir dan data atau informasi yang dikumpulkan secara empiris (Sudjana, 2001).

  1. B.      Hakikat Penelitian

Pada hakekatnya penelitian diawali dari hasrat keingintahuan peneliti yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan atau permasalahan. Setiap pertanyaan atau per-masalahan  tersebut perlu jawaban atau pemecahan. Dari jawaban dan pemecahan  tersebut peneliti memperoleh pengetahuan yang benar mengenai suatu masalah. Pengetahuan yang benar adalah yang dapat diterima akal dan berdasarkan fakta empirik. Untuk memperolehnya harus mengikuti kaidah-kaidah dan menurut cara-cara bekerjanya akal yang disebut logika, dan dalam pelaksanaannya diwujudkan melalui penalaran.. Pengetahuan yang benar tersebut disebut juga pengetahuan ilmiah atau ilmu.

Dengan demikian penelitian  ilmiah adalah suatu metode ilmiah untuk memperoleh pengetahuan menggunakan penalaran. Penalaran tersebut dilaksanakan melalui prosedur logika deduksi dan induksi. Dengan pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain untuk pengembangan pengetahuan dan teknologi, perencanaan pembangunan dan untuk pemecahan masalah-masalah dalam kehidupan manusia.

  1. C.     Konsep Penelitian

Konsep adalah  suatu rancangan yang kemudian akan menjadi panutan atau tolok ukur dalam melakukan setiap kegiatan.Konsep penelitian merupakan salah satu upaya meningkatkan hasildalam penelitian dan mengembangkan serta memperbaiki.

Koherensi dan korespondensi mendasari bagaimana ilmu diperoleh telah melahirkan cara mendapatkan kebenaran ilmiah. Proses untuk mendapatkan ilmu agar memiliki nilai kebenaran harus dilandasai oleh cara berpikir yang rasional berdasarkan logika dan berpikir empiris berdasarkan fakta. Salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah melalui penelitian. Banyak definisi tentang penelitian tergantung sudut pandang masing-masing. Penelitian dapat didefinisikan sebagai upaya mencari jawa ban yang benar atas suatu masalah berdasarkan logika dan didukung oleh fakta empirik. Dapat pula dikatakan bahwa penelitian adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematis melalui proses pengumpulan data, pengolah data, serta menarik kesimpulan berdasarkan data menggunakan metode dan teknik tertentu.


BAB III

ISI

  1. A.    Makna Penelitian
    1. 1.        Perlunya penelitian

Seseorang melakukan penelitian dikarenakan beberapa sebab yaitu,pertama karena pengetahuan pemahaman dan kemampuan manusia sangat terbatas dibandingkan dengan lingkungannya yang begitu luas,kedua manusia memiliki dorongan untuk mengetahui atau curiosity. Kedua sebab tersebut salin berhubungan,dorongan ingin tahu disalurkan untuk menambah dan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman.Pengetahuan dan pemahaman tentang sesuatu menimbulkan rasa ingin tahu baru yang lebih luas, lebih tinggi, lebih menyeluruh.

Ketiga, manusia di dalam kehidupannya selalu dihadapkan pada masalah, tantangan, ancaman, kesulitan, baik di dalam dirinya, keluarganya, masyarakat sekitarnya serta di lingkungan kerjanya.Keempat ,manusia merasa tidak puas dengan apa yang telah di capai, dikuasai, dan dimiikinya, ia selalu ingin yang lebih baik, lebih sempurna, lebih memberikan kemudahan, selalu ingin menambah dan meningkatkan”kekayaan” dan fasilitas hidupnya.

  1. 2.        Pemecahan Masalah

Banyak cara yang dilakukan manusia untuk memecahkan masalah  yang dihadapinya yaitu, pertama  pemecahan masalah secara tradisional,contoh memotong padi dengan anai-anai, kedua Pemecahan masalah secara dogmatis baik dogma agama maupun masyarakat,hukum seperti pencuri di potong tangannya. Ketiga, Pemecahan masalah secara intuitif yaitu berdasarkan bisikan hati  conyohnya seorang ibu kebingungan anaknya yang masih kecil terlambat pulang sekolah. Keempat, Pemecahan masalah secara emosional misal, pintu terkunci di buka dengan mendobrak .Kelima ,Pemecahan masalah secara spekulatif atau trial dan error,misal suara radio berhenti dan digoyang-goyangkan lalu bisa bersuara kembali.

  1. 3.        Pengertian penelitian

Secara umum ,penelitian diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis untuk mencapai tujuan tertentu.Pengumpulan dan analisis data menggunakan metode-metode ilmiah, baik yang bersifat kuantitatif ataupun kualitatif , eksperimental atau non eksperimental,  interaktif atau non interaktif.

Penelitian merupakan upaya untuk mengembangkan pengetahuan , mengembangkan dan menguji teori. McMillan dan Schumacher (2001) mengutip pendapat Walberg ada 5 langkah pengembangan pengetahuan:

  • Mengidentifikasi masalah penelitian
  • Melakukan studi empiris
  • melakukan replikasi atau pengulangan
  • Menyatukan (sintesis )dan mereview
  • Menggunakan dan mengevaluasi oleh pelaksana.
  • Penelitian sebagai pencarian ilmiah yang berpola

Tujuan akhir suatu ilmu adalah mengembangkan dan menguji teori.Menurut Kerlinger ada tiga hal penting dalam suatu teori,yaitu:

  • Suatu teori dibangun oleh seperangkat proporsisi dan konstruk.
  • Teori menegaskan hubungan antara sejumlah variabel.
    • Teori menjelaskan dan memprediksi fenomena-fenomena.
  1. 4.        Pencarian Ilmiah

Pencarian ilmiah (scientific inquiry) adalah suatu kegiatan untuk ,merumuskan pengetahuan dengan menggunakan metode-metode yang diorganisasikan secara sistematis dalam mengumpulkan ,menganalisa dan mengintrepetasi data.

Metode ilmiah merupakan suatu cara pengkajian yang berisi proses dengan langkah – langkah tertentu. McMillan dan Schumacher (2001) membagi metode ilmiah dalam empat langkah,yaitu:

  • Define a problem
  • State the hypothesis to be tested
  • Collect and analyze data. Interpreter the result and draw conclusions about the problem.

Jhon Dewey juga menyebutkan langkah-langkah pencarian karya ilmiah senagai “reflective thinking” dalam lima langkah,yaitu:

  • Mengidentifikasi masalah
  • Merumuskan dan membatasi masalah
  • Menyusun hipotesis
  • Mengumpulkan dan menganalisis data
    • Menguji hipotesis dan menarik kesimpulan

Dari kedua langkah yang dikemukakan oleh para ahli diatas sering dijadikan dasar dari langkah-langkah utama penelitian.

  1. 5.        Pencarian berpola

Pencarian berpola merupakan suatu prosedur pencarian dan pelaporan dengan menggunakan cara-cara dansistematika tertentu ,disertai penjelasan dan alasan yang kuat. Prosedur pencarian ini pada awalnya bersifat spekulatif, mencoba menggabungkan ide-ide dan metode-metode, kemudian menuangkan ide–ide dan metode tersebut dalam suatu prosedur yang baku.

Pencarian berpola terutama dalam ilmu sosial termasuk pendidikan bukan hanya menunjukkan pengkajian yang sistematik ,tetapi juga pengkajian yang sesuai dengan disiplin ilmunya.Pendidikan kebanyakan menggunakan metode diskriptif. tetapi untuk hal –hal tertentu bisa menggunakan metode eksperimen, tindakan, penelitian dan pengembangan dan juga kualitatif.

  1. 6.        Karakteristik dan Langkah-langkah Penelitian
    1. Karakteristik penelitian pendidikan meliputi :
  • Objektivitas

Penelitian harus mempunyai objektivitas baik dalam karakteristik maupun prosedurnya.

  • Ketepatan

Penelitian juga harus memiliki tingkat ketepatan (precision), secara teknis instrumen pengumpulan datanya harus memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai .

  • Verifikasi

Penelitian dapat diverifikasi, dalam arti di konfirmasikan, direvisi dan di ulang dengan cara yang sama atau berbeda.

  • Penjelasan ringkas

Penelitian mencoba memberikan penjelasan tentang hubungan antar fenomena dan penyederhaan menjadi penjelasan yang ringkas.

  • Empiris

Penelitian ditandai oleh sikap dan pendekatan empiris yang kuat.secara umum empiris kesimpulan di dasarkan atas kenyataan-kenyataan dengan menggunakan metode penelitian yang sistematik.

  • Penalaran logis

Semua kegiatan penelitian menuntut penalaran logis.penalaran menggunakan prinsip-prinsip logika deduktif dan induktif.

  • Kesimpulan kondisional

Kesimpulan hasil penelitian tidak bersifat absolut.Penelitian perilaku, dan juga ilmu kealaman, tidak menghasilkan kepastian, sekalipun kepastian relatif

  1. Langah-langkah Penelitian

Penelitian merupakan suatu proses yang terdiri atas beberapa langkah :

  • Mengidentifikasi masalah

Kegiatan penelitian dimulai dengan mengidentifikasi isu-isu dan masalah-masalah penting,hangat dan mendesak pada saat ini.

  • Merumuskan dan membatasi masalah

Perumusan masalah merupakan perumusan dan pemetaan faktor-fator,atau variabel-variabel yang terkait dengan fokus masalah;

  • Melakukan studi keputusan

Studi keputusan merupakan kegiatan untuk mengkaji teori-teori yang mendasari penelitian ,baik teori yang berkenaan dengan bidang ilmu yang diteliti maupun metodologi

  • Merumuskan hipotesis atau pertanyaan penelitian

Hal-hal pokok yang ingin diperoleh dari penelitian dirumuskan dalam bentuk hipotesis atau pertanyaan penelitian.

  • Menentukan desain dan metode penelitian

Desain penelitian berisi rumusan tentang langkah-langkah penelitian, dengan menggunakan pendekatan, metode penelitian, teknik pengumpulan data, dan sumber data tertentu serta alasan-alasan mengapa menggunakan metode tersebut.

  • Menyusun instrumen dan mengumpulkan data

Kegiatan pengumpulan data di dahului oleh penentuan teknik, penyusunan dan pengujian instrumen yang akan di gunakan.

  • Menganalisis data dan menyajikan hasil

Analisis data menjelaskan teknik dan langkah-langkah yang ditempuh dalam mengolah atau menganalisa data.

  • Mengintepretasikan temuan,membuat kesimpulan dan rekomendasi

Hasil analisis data masih berbentuk temuan yang belum di beri makna

  1. 7.        Jenis-jenis penelitian
  • Jenis penelitian berdasarkan pendekatan

Berdasarkan pendekatan, secara garis besar dibedakan dua macam penelitian yaitu, kuantitatif dan kualitatif. Karakteristik tinjau dari:

  • Asumsi yang realita
  • Tujuan penelitian
  • Metode dan proses penelitian
  • Kajian khas
  • Peranan peneliti
  • Pentingnya konteks dalam penelitian
  • Jenis penelitian berdasarkan fungsinya

Penelitian mempunyai dua fungsi utama yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki praktek.Berdasarkan fungsinya secara umum dapat dibedakan tiga macam penelitian  yaitu:

  • Penelitian dasar

Penelitian dasar (Basic Research) di sebut juga penelitian murni (pure Reseach) atau penelitian pokok (fundamental Reseach) diarahkan pada pengujian teori dengan hanya sedikit tau bahkan tanpa menghubungkan hasilnya untuk kepentingan praktik.

  • Penelitian Terapan

Penelitian terapan (applied reseach) berkenaan dengan kenyataan – kenyataan praktis, penerapan dan pengembangan pengetahuan yang di hasilkan oleh penelitian dasar dalam kehidupan nyata.

  • Penelitian Evaluative

Penelitian evaluatif (evaluation reseach)di fokuskan pada suatu kegiatan dalam suatu unit(site)tertentu.

 

BAB IV

PEMBAHASAN

v  Pembahasan dari rumusan masalah di atas adalah :

  1. 1.      Mengapa penelitian perlu dilakukan, karena adanya beberapa alasan :
  • Makna Penelitian

Penelitian merupakan suatu cara dari sekian cara yang pernah dilakukan dalam mencari kebenaran . Oleh karena itu penelitian perlu dilakukan.Alasannya adalah Karena pengetahuan pemahaman dan kemampuan manusia sangat terbatas dibandingkan dengan lingkungannya yang begitu luas, manusia memiliki dorongan untuk mengetahui atau curiosity.Pengetahuan dan pemahaman tentang sesuatu menimbulkan rasa ingin tahu baru yang lebih luas ,lebih tinggi,lebih menyeluruh.

Menurut Dr.Nana Syaodih Sukmadinata Penelitian perlu dilakukan minimal ada empat sebab yang melatar belakanginya.Manusia di dalam kehidupannya selalu dihadapkan pada masalah,tantangan ,ancaman ,kesulitan , baik di dalam dirinya , keluarganya, masyarakat sekitarnya serta di lingkungan kerjanya,Manusia merasa tidak puas dengan apa yang telah di capai , dikuasai ,dan dimiikinya , ia selalu ingin yang lebih baik , lebih sempurna ,lebih memberikan kemudahan ,selalu ingin menambah dan meningkatkan”kekayaan” dan fasilitas hidupnya.

Dari sebab tersebut saling berhubungan,dorongan ingin tahu disalurkan untuk menambah dan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman.

  • Pemecahan masalah

Banyak cara yang dilakukan manusia untuk memecahkan masalah  yang dihadapinya yaitu, pertama Pemecahan masalah secara tradisional, contoh memotong padi dengan anai-anai, kedua Pemecahan masalah secara dogmatis baik dogma agama maupun masyarakat,hukum seperti pencuri di potong tangannya. Ketiga, Pemecahan masalah secara intuitif yaitu berdasarkan bisikan hati  contohnya seorang ibu kebingungan anaknya yang masih kecil terlambat pulang sekolah. Keempat, Pemecahan masalah secara emosional misal, pintu terkunci di buka dengan mendobrak. Kelima, Pemecahan masalah secara spekulatif atau trial dan error, misal suara radio berhenti dan digoyang-goyangkan lalu bisa bersuara kembali.

  • Penelitian sebagai pencarian ilmiah yang berpola.

Tujuan akhir suatu ilmu adalah mengembangkan dan menguji teori. Kerlinger mengemukakan tujuannya yaitu;

  • Suatu teori dibangun oleh seperangkat proporsisi dan konstruk.
  • Teori menegaskan hubungan antara sejumlah variabel.
  • Teori menjelaskan dan memprediksi fenomena-fenomena.
  • Pencarian Ilmiah

Pencarian ilmiah (scientific inquiry) adalah suatu kegiatan untuk ,merumuskan pengetahuan dengan menggunakan metode-metode yang diorganisasikan secara sistematis dalam mengumpulkan, menganalisa dan mengintrepetasi data. McMillan dan schumacher (2001) membagi metode ilmiah dalam empat langkah,yaitu:

  • Define a problem
  • State the hypothesis to be tested
  • Collect and analyze data
  • Interpreter the result and draw conclusions about the problem.

Jhon Dewey juga menyebutkan langkah-langkah pencarian karya ilmiah sebagai “reflective thinking” dalam lima langkah,yaitu:

  • Mengidentifikasi masalah
  • Merumuskan dan membatasi masalah
  • Menyusun hipotesis
  • Mengumpulkan dan menganalisis data
  • Menguji hipotesis dan menarik kesimpulan

Dari kedua langkah yang dikemukakan oleh para ahli diatas sering dijadikan dasar dari langkah-langkah utama penelitian.

  • Pencarian berpola

Pencarian berpola merupakan suatu prosedur pencarian dan pelaporan dengan menggunakan cara-cara dansistematika tertentu ,disertai penjelasan dan alasan yang kuat. Pencarian berpola terutama dalam ilmu sosial termasuk pendidikan bukan hanya menunjukkan pengkajian yang sistematik, tetapi juga pengkajian yang sesuai dengan disiplin ilmunya. Pendidikan kebanyakan menggunakan metode diskriptif. tetapi untuk hal –hal tertentu bisa menggunakan metode eksperimen, tindakan, penelitian dan pengembangan dan juga kualitatif.

  1. 2.      Karakteristik dan Langkah-langkah Penelitian
  • Adapun karakteristik dan langkah-langkah penelitian tersebut meliputi:

 

  • Objektivitas

Penelitian harus mempunyai objektivitas baik dalam karakteristik maupunprosedurnya. Objektifitas juga menunjukan kualitas data yang di hasilkan dari prosedur yang di gunakan yang dikontrol dari bias dan subjektifitas.

  • Ketepatan

Penelitian juga harus memiliki tingkat ketepatan (precision),secara teknis instrumen pengumpulan datanya harus memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai, desain peneilitian, pengambilan sampel dan teknik analisi tepat.

  • Verifikasi

Penelitian dapat diverifikasi, dalam arti di konfirmasikan ,direvisi dan di ulang dengan cara yang sama atau berbeda.

  • Penjelasan ringkas

Penelitian mencoba memberikan penjelasan tentang hubungan antar fenomena dan penyederhakan menjadi penjelasan yang ringkas.Tujuan akhir dari suatu penelitian adalah mereduksi realita yang kompleks ke dalam penjelasan yang singkat.

  • Empiris

Penelitian ditandai oleh sikap dan pendekatan empiris yang kuat.secara umum empiris kesimpulan di dasarkan atas kenyataan-kenyataan yang diperoleh dengan menggunakan metode penelitian yang sistematik.

  • Penalaran logis

Semua kegiatan penelitian menuntut penalaran logis. penalaran menggunakan prinsip-prinsip logika deduktif dan induktif,

  • Kesimpulan kondisional

Kesimpulan hasil penelitian tidak bersifat absolut. Penelitian perilaku, dan juga ilmu kealaman, tidak menghasilkan kepastian, sekalipun kepastian relatif.

  • Langkah-langkah penelitian

penelitian terdiri dari beberapa langkah yaitu:

  • Mengidentifikasi masalah

Kegiatan penelitian dimulai dengan mengidentifikasi isu-isu dan masalah-masalah penting,hangat dan mendesakyang dihadapi saat ini.

  • Merumuskan dan membatasi masalah

Perumusan masalah merupakan perumusan dan pemetaan faktor-faktor, atau variabel-variabel yang terkait dengan fokus masalah.

  • Melakukan studi keputusan

Studi keputusan merupakan kegiatan untuk mengkaji teori-teori yang mendasari penelitian ,baik teori yang berkenaan dengan bidang ilmu yang diteliti maupun metodologi

  • Merumuskan hipotesis atau pertanyaan penelitian

Hal-hal pokok yang ingin diperoleh dari penelitian dirumuskan dalam bentuk hipotesis atau pertanyaan penelitian.

  • Menentukan desain dan metode penelitian

Desain penelitian berisi rumusan tentang langkah-langkah penelitian, dengan menggunakan pendekatan,metode penelitian, teknik pengumpulan data, dan sumber data tertentu serta alasan-alasan mengapa menggunakan metode tersebut.

  • Menyusun instrumen dan mengumpulkan data

Kegiatan pengumpulan data di dahului oleh penentuan teknik, penyusunan dan pengujian instrumen pengumpulan data yang akan digunakan.

  • Menganalisis data dan menyajikan hasil

Analisis data menjelaskan teknik dan langkah-langkah yang ditempuh dalam mengolah atau menganalisa data.

  • Mengintepretasikan temuan,membuat kesimpulan dan rekomendasi

Hasil analisis data  masih berbentuk temuan yang belum di beri makna.Pemberian makna atau arti dari temuan dilakukan melalui interpretasi.

Menurut Drs.M.Subana ,M.Pd dan Sudrajat,S.Pd secara garis besar ,prosedur kerja penelitian dilalui dalam tahapan-tahapan :

  • Perencanaan penelitian
  • Pelaksanaan penelitian
  • Penulisan laporan penelitian

Dari beberapa langkah-langkah penelitian menurut beberapa  ahli dapat di simpulkan yaitu: mengidentifikasi masalah , merumuskan dan membatasi masalah ,melakukan studi kepustakaan ,merumuskan hipotesis atau pertanyaan penelitian ,menentukan desain dan metode penelitian ,menyusun instrumen dan mengumpulkan data , menganalisis data dan menyajikan hasil , menginterpretasikan temuan,membuat kesimpulan dan rekomendasi

  • Jenis-jenis penelitian

Jenis penelitian ditinjau berdasarkan:

Berdasarkan pendekatan, secara garis besar dibedakan dua macam penelitian yaitu, kuantitatif dan kualitatif. Keduanya memiliki asumsi, karakteristik yang berbeda  tinjau dari:

  • Asumsi yang realita
  • Tujuan penelitian
  • Metode dan proses penelitian
  • Kajian khas
  • Peranan peneliti
  • Pentingnya konteks dalam penelitian
  • Jenis penelitian berdasarkan fungsinya

Penelitian mempunyai dua fungsi utama yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki praktek.Berdasarkan fungsinya secara umum dapat dibedakan tiga macam penelitian  yaitu

  • Penelitian dasar
  • Penelitian Terapan
  • Penelitian Evaluative

Mcmillan dan Schumacher (2001) membedakan penelitian dasar, terapan dan evaluatif berdasarka bidang penelitian, tujuan, tingkat generalisasi, dan penggunakan hasilnya. Perbedaan-perbedan tersebut digambarkannya dalam tabel 1.2 berikut:

Tabel 1.2

                                           Perbedaan antara penelitian dasar, terapan, dan evaluatif

Penelitan dasar

Penelitian terapan

Penelitian evaluatif

Bidang penelitian

Tujuan

Tingkat generalisasi

Penggunakan hasilPenelitian bidang fisik, perilaku, dan sosial

Menguji teori, dalil, prinsip dasar. Menentukan hubungan empiris antar fenomena dan mengadakan generalisasi analitis

Abtrak,umum

Menambah pengetahuan ilmiah dari prinsip-prinsip dasar dan hukum tertentu. Meningkatkan metodologi dan cara-cara pencarian.Bidang aplikasi: kedokteran, rekayasa, pendidikan

Menguji kegunaan teori dalam bidang tertentu. Menntukan hubungan empiris, dan generalisasi analatis dalam bidang tertentu.

Umum tetapi dalam bidang tertentu

Menambah pngetahuan yang didasarkan penelitian dalam bidang tertentu. Meningkatkan penelitian dan metodologi dalam bidang tertentu.Pelaksanaan berbagai kegiatan, program pada berbagai tempat dan lembaga.

Mengukur manfaat, sumbangan, dan kelayakan program atau kegiatan tertentu

Konkrit, spesifik dalam aspek tertentu. Diterapkan dalam praktik aspek tertentu.

Menambah pengetahuan yang didasarkan penelitian tentang praktik tertentu. Meningkatkan penelitian dan metodologi tentng prakti  tertentu. Membantu dalam penentuan keputusan dalam bidng terrtentu.

  • Jenis-jenis berdasarkan tujuan

Selain berdasarkan pendekatan dan fungsinya, penelitian juga dapat dibedakan berdasarkan tujuannya. Berdasarkan tujuannya dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:

  • Peneltian deskriptif
  • Penelitian prediktif
  • Penelitan improftif

Menurut . Drs.Subana , HM dan Sudrajat S.Pd  mengurutkan nama-nama penelitian sebagai berikut;

  • Penelitian Kualitatif
  • Penelitian Kuantitatif
  • Penelitian Dasar
  • Penelitian Terapan
  • Penelitian Mendesak
  • Penelitian Perkembangan :   Cross Sectional

Longitudinal

  • Penelitian evaluasi
  • Penelitian Tindakan Lanjut
  • Penelitian Analisis Dokumen
  • Penelitian Historis :  Penelitian Legal

Penelitian Dokumen

  • Penelitian Survei
  • Penelitian Deskriptif
  • Penelitian Korelasi
  • Penelitian Komparatif : Kausal Komparatif

Korelasional Komparatif

  • Case Studies
  • Penelitian Eksperimen : Eksperimen Murni

Kuasi Eksperimen

Subjek Tunggal

  • Ex-post-fakto ( penelitien sesudah kejadian )
  • Penelitian Tindakan Kelas

Dari  beberapa  ahli dapat disimpulkan bahwa ada banyak jenis penelitian di tinjau dari pendekatan , tujuan dan fungsinya.

 

BAB V

PENUTUP

v SIMPULAN

Dari penelitian di atas dapat di simpulkan bahwa:

  • Penelitian perlu  dilakukan karena pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan manusia sangat terbatas di bandingkan dengan lingkunganya yang begitu luas.
  • Konsep dalam penelitian sangat di perlukan untuk dapat lebih menunjang hasil penelitian yang lebih baik.
  • Jenis penelitian yang beragam mampu menghasilkan penelitian yang beragam pula sehingga akan lebih memperbaiki dan mengembangkan penelitian.

v IMPLIKASI

  • Jika hasil penelitian semakin berkembang maka pemahaman dan pengetahuan seseorang  juga akan meningkat.
  • Jika suatu konsep penelitian di terakan dengan baik maka akan meningkatkan hasil penelitian.
  • Jika Jenis penelitian dapat di sesuaikan dengan apa yang akan di teliti maka akan lebih inovatif

v SARAN

  • Di dalam penelitian harus mempunyai objektifitas baik dalam karakteristik maupun prosedurnya.
  • Penelitian secara teknis, instrumen pengumpulan datanya harus memiliki validitas dan reabilitas yang memadai, desain penelitian, pengambilan sampel dan tehknik analisisnya tepat

 

DAFTAR PUSTAKA

Sutama (2010). Metode Penelitian Pendidikan, Surakarta: fairuz media

Sukmadinata, N.S (2009). Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Subana, M.H (2005). Dasar-dasar Penelitian Ilmiah , Bandung: Pustaka Setya

(Hartoto @ http://fatamorghana.wordpress.com)

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/02/09/penelitian-pendidikan/

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.